Pasca pembebasannya, Zeidan menyerukan agar masyarakat Libya tenang dan tidak memicu konflik baru.
"Kami berharap hal ini (penculikan) diperlakukan dengan bijaksana dan rasional, jauh dari ketegangan, karena ada banyak hal yang perlu diurus," kata Zeidan kepada kabinetnya dalam pernyataan yang disiarkan di televisi setelah pembebasannya pada Kamis (10/10), seperti dilansir
Aljazeera.
Dalam pernyataanya, Zeidan menjamin keamanan para warga negara asing yang tinggal di Libya. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada dua pasukan militer yang telah membantu merundingkan kebebasannya dan mendesak para penculik yang merupakan kelompok pemberontak bersenjata untuk bergabung dengan pasukan militer Libya. Pasukan pemberontak tersebut diketahui pernah menolak kesepakatan untuk melucuti senjata ataupun bergabung dengan keamanan nasinal di masa lalu.
Pemberontak tesebut berasal dari Kamar Operasi Revolusi Libya (Libyan Revolutionary Operations Chamber) yang kemudian bersedia diangkat menjadi pasukan keamanan Libya.
Juru bicara kelompok pemberontak itu mengatakan bahwa penculikan Zeidan dipicu oleh pernyataan Menteri Luar Negeri AS John Kerry yang menyatakan bahwa pemerintah Libya memiliki peran dalam penangkapan akhir pekan lalu di kota Abu Anas al-Liby. Kelompok ini juga menuduh Zeidan menyuap penjaga militer agar memblokir kilang minyak di Libya Timur pada September lalu. Hal tersebut memicu kemarahan di kelompok pemberontak tersebut.
Beberapa saat sebelum Zeidan merilis pernyataanya tersebut, Wakil Perdana Menteri Al-Seddik Abdelkarim telah bersumpah bahwa pemerintah tidak akan memberikan hukuman ataupun tuntutan pidana bagi para pelaku. Pernyataan tersebut juga dibuktikan dengan tidak memberikan hukuman bagi para penculik Zeidan yang telah bersedia bergabung pada barisan pengamanan nasional Libya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: