HARI TANI NASIONAL

Nasib Petani Saat Ini Tak Jauh Beda dengan Masa Kolonial

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 24 September 2013, 08:28 WIB
Nasib Petani Saat Ini Tak Jauh Beda dengan Masa Kolonial
ilustrasi/net
rmol news logo . Tujuan Indonesia dibentuk adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Saat negara Indonesia dibentuk itu, kata Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady Ginting, sebagain besar bangsa Indonesia merupakan petani yang ditindas oleh pemerintah kolonial. Di atas tanahnya sendiri, para pendahulu Republik tidak berdaulat untuk menentukan nasibnya sendiri.

"Kini Negara Kesatuan Republik Indonesia telah berumur 68 tahun sejak diproklamirkan oleh dwi-tunggal Soekarno-Hatta, namun nasib petani Indonesia masih memprihatinkan. Ibarat pepatah mengatakan jauh panggang dari api, dari cita-cita terbentuknya Indonesia," kata Twedy dalam keterangan beberapa saat lalu (Selasa, 24/9).

Berdasarkan data BPS per September 2013, Twedy menjelaskan, penduduk miskin Indonesia berjumlah 28,60 juta jiwa, dan 63,25 persen diantaranya adalah petani dan buruh tani. Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) turun sebesar 0,45 persen. Kondisi ini jelas menggambarkan kehidupan petani Indonesia semakin sulit dari waktu ke waktu. Belum lagi, rata-rata penguasaan lahan hanya sebesar 0,3 hektar.

"Petani dan buruh tani Indonesia masih mengalami kesulitan permodalan dan pasar sehingga petani dan buruh tani harus berurusan dengan para tengkulak," demikian Twedy, terkait dengan Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari ini. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA