Paling tidak itulah kesimpulan yang didapatkan Wakil Sekjen Golkar, Lalu Mara Satria Wangsa saat bersilaturrahmi dengan masyarakat Pringgasela di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Haji Nurdin, pemilik rumah yang menjadi tempat silaturrahmi, ternyata telah berhasil membuat reaktor biogas dari kotoran puyuh. Bahkan bisa dikatakan, Nurudin adalah orang pertama di NTB yang menggagas kotoran puyuh jadi biogas.
"Dengan investasi sebesar Rp 7 juta, H. Nurudin membangun reaktor biogas. Tentu, sebelumnya ia membudidaya burung puyuh sebanyak 300 ekor," kata Lalu Mara kepada
Rakyat Merdeka Online menyampaikan kekagumannya beberapa saat lalu (Selasa, 17/9).
Nurudin, lanjut Mara, memanfaatkan kerjasama Indonesia-Belanda melalui Progran Hivos dan Program Indonesia Biru untuk merealisasikan gagasannya tersebut. Ia pun sudah dikunjungi gurubesar dan ahli dari Belanda terkait pemanfaatan kotoran puyuh untuk biogas.
"Sungguh sangat luar biasa, karena pengolahan kotoran puyuh menjadi biogas tak membutuhkan teknologi yang luar biasa, tapi sangat tepat guna. Terbayang bila kotoran puyuh, ayam, kuda, sapi, babi dan hewan lainnya di NTB diolah menjadi biogas, sungguh akan sangat mengurangi beban APBN dalam menanggung subsidi energi," ujar Lalu Mara.
Caleg DPR dari Dapil NTB ini pun menambahkan bahwa program tersebut juga sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan pendapatan, karena telur puyuh laku di pasar, sementara kotorannya menghilangkan pengeluaran untuk bahan bakar minyak (BBM) rumah tangga.
[ysa]
BERITA TERKAIT: