Demikian disampaikan pemerhati kontra-terorisme yang juga Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya. Berdasarkan penelusuran CIIA beblakangan ini, ungkap Harits, didapatkan informasi bahwa sebenarnya polisi telah menemukan pelaku peristiwa teror berupa penembakan itu adalah oknum Densus 88 sendiri yang berinisial YW. Belakangan, Polda Sulteng mengakui dan berargumentasi bila peristiwa penembakan tersebut sebagai bentuk uji kesiagaan Mapolsek setempat terhadap ancaman aksi terorisme.
Berdasarkan penelusuran informasi yang diperoleh CIIA dari lapangan, ungkap Harits beberapa saat lalu (Selasa, 17/9), kasus itu sebenarnya telah terungkap oleh Polisi pada 18 Juli 2013. Pelaku yang berinisial YW telah berhasil ditangkap oleh personel Brimob yang berinisial R di arena STQ Palu. Namun, agenda mengumumkan keberhasilan penangkapan pelaku diurungkan setelah diketahui pelaku adalah oknum anggota Densus 88 yang bertugas di Poso. Bahkan sebaliknya, anggota Brimob yang berinisial R diciduk dan dibawa ke Mabes Polri untuk sebuah kepentingan.
Dari fakta ini, ungkap Harits, masyarakat harus sadar bahwa teror dan terorisme sudah mengalami pergeseran sedemikian rupa. Dan betapa bahayanya jika teror dilakukan oleh aparat dengan memuntahkan peluru hanya untuk kepentingan memberantas terorisme, dan alasan "teror" akhirnya hanya untuk menjadi triger kesiapan aparat menjadi sangat klise sekali.
"Ini menjadi sampel penting, dan bukan tidak mungkin teror-teror yang menjamur di Indonesia adalah produk dari sebuah rekayasa untuk mencapai target-target tertentu. Harusnya ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat, dan menjadi "amunisi" masyarakat terutama stackholdernya untuk memberi masukan dan kontrol bagi semua institusi negeri ini yang hendak menegakkan keadilan," demikian Harits.
[ysa]
BERITA TERKAIT: