Perguruan Tinggi tersebut adalah Birmingham Metropolitan College yang menetapkan peraturan dan melarang semua mahasiswa, staf, dan pengunjungnya untuk melepas semua bentuk penutup wajah, sehingga wajah mereka dapat selalu terlihat. Hal tersebut akan mempermudah identifikasi setiap orang yang berlalu-lalang setiap waktu.
Namun langkah tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh semua pihak. Sebagian mahasiswa yang mengumpulkan 800 tandatangan mengklaim bahwa mereka menolak kebijakan yang mereka sebut Islamophobia tersebut.
Juru Bicara PM Cameron mengatakan bahwa kebijakan PM mendukung larangan penggunaan jilbab yang menutup bagian wajah merupakan bentuk pembelaan hak institusi pendidikan. PM Cameron mendukung setiap sekolah dan Perguruan Tinggi untuk menetapkan dan menegakkan kebijakan mengenai seragam sekolah mereka sendiri. Disamping itu, kebijakan PM Cameron juga dilakukan untuk alasan keamanan. Agar jika terjadi suatu kejadian, setiap orang yang terlibat dapat mudah diidentifikasi.
"Kita mendukung sekolah yang dapat mengatur dan menegakkan kebijakan seragam sekolah mereka sendiri," kata Juru Bicara Pm Cameron seperti yang dikutip dari
Dailymail (Sabtu, 14/9).
Tapi Wakil Perdana Menteri Nick Clegg mengatakan dia merasa "gelisah" tentang larangan jilbab di sekolah-sekolah, meskipun ia bisa mengerti mengapa kebijakan tersebut diperlukan. Karena Penggunaan penutup kepala dapat menimbulkan resiko keamanan. Sehingga pelarangan penggunaan penutup kepala dapat meminimalisir resiko keamanan tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa penutup kepala yang dimaksud bukan hanya sekedar jilbab, tapi juga termasuk topi, Hoddie (tudung kepala), dan segala bentuk penutup kepala dan wajah.
Kebijakan ini, kedepan akan membuat perempuan muslimn di Inggris akan melepaskan niqab, jilbab yang disertai cadar wajah sehingga hanya bagian mata yang dapat terlihat, atau burqa, jilbab yang disertai penutup wajah penuh termasuk bagian mata yang ditutupi kain berjaring tipis.
[ysa]
BERITA TERKAIT: