Bersama dengan anjloknya rupiah, Jakarta Composite Indeks juga anjlok 5,6 persen. Bahkan nilai perdagangannya pun mencapai Rp 6,7 triliun, melebihi nilai rata-rata tahun ini.
Keadaan sepeti ini, kata Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad H Wibowo, menunjukkan bahwa pasar sedang menghukum SBY dan pemerintahannya dengan hantaman yang keras. Pasar menghukum SBY dan pemerintahnnya terutama karena tiga hal.
Pertama, kata Dradjad, yang meraih gelar master of science di bidang ekonomi serta doktor economathematic dari University of Queensland beberapa saat lalu (Selasa, 20/8), RAPBN 2014 divonis sebagai bukti bahwa pemerintah telah
out of touch.
"Bahasa dari teman-teman saya di pasar
the government is making a fool of itself. Target pertumbuhan 6,4 persen bukan hanya dinilai tidak realistis, tapi diejek sebagai guyonan," tegas Dradjad.
Kedua, lanjutnya, pasar menghukum SBY karena pemerintah dinilai terlalu menganggap enteng persoalan
trade deficit dan utang swasta yang jatuh tempo. Ketiga, BI dianggap terlalu dipaksa mempertahankan rupiah di luar kemampuannya.
"Terbukti dari cadangan devisa yang sudah anjlok sekitar 20 miliar dolar AS," demikian Dradjad.
[ysa]
BERITA TERKAIT: