Dengan kondisi seperti ini, kata Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad H Wibowo, maka SBY dan pemerintahannya sedang dihukum pasar dengan hantaman yang keras. Dradjad, sejak beberapa bulan terakhir, memang sering mengatakan sekaligus mengingatkan bahwa rupiah akan terus tertekan.
"Namun rupanya anjloknya rupiah lebih cepat dari perkiraan pelaku pasar. Per hari kemarin rupiah sudah turun 9,4 persen
year on year menjadi di atas 10.500," kata Dradjad dalam keterangan beberapa saat lalu (Selasa, 20/8).
Bersama dengan anjloknya rupiah, kemarin, lanjutnya, Jakarta Composite Indeks juga anjlok 5,6 persen. Bahkan nilai perdagangannya pun mencapai Rp 6,7 triliun, melebihi nilai rata-rata tahun ini. Maka Saham-saham unggulan bertumbangan. Di saat yang sama, stabilitas fiskal semakin terganggu karena
yield dari obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sudah naik 300
basis point lebih selama setahun terakhir.
Hal yang belum banyak diketahui pasar, lanjutnya, adalah penerimaan pajak 2013 diperkirakan bakal jeblok.
"Selama semester I tahun 2013, penerimaan pajak di bawah 40 persen," demikian Dradjad.
[ysa]
BERITA TERKAIT: