Dengan melihat faktor fundamental ekonomi Indonesia, ekonom senior yang sementara tidak mau disebutkan namanya memprediksi rupiah akan tetap berada dalam tekanan. Hal ini terutama dalam hal
trade deficit dan
capital flows.
Pemicu dari sisi
trade deficit, katanya kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 29/7), adalah ekspor non-migas yang melemah. Sementara di saat yang sama, impor non-migas melonjak.
Sedangkan pemicu dari sisi
capital flows, lanjutnya, adalah utang swasta. Hingga saat ini, masih ada utang swasta sebesar 25,7 miliar dolar AS, yang akan jatuh tempo, termasuk dengan bunganya, hingga akhir tahun 2013. Dan sebagian besar utang swasta itu jatuh tempo pada bulan September.
Sementara dari sisi tren, lanjutnya, rupiah baru turun sekitar 6 persen. Dan saat ini pelaku pasar uang sedang menguji kekuatan pasar, apakah rupiah bisa turun hingga 10-15 persen seperti dolar Australia atau tidak. Artinya rupiah sedang diuji, apakah rupiah bisa turun ke 10.500-11000 atau tidak.
"Jadi rupiah memang masih menghadapi tekanan. Mungkin mereda sebentar, tapi sepertinya akan disambung lagi bulan September," demikian sang ekonom.
[ysa]
BERITA TERKAIT: