Memang, kata anggota Komisi III dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aboe Bakar Alhabsy, apa yang diungkapkan wanita berusia 40 tahun itu bukanlah barang baru. Apa yang disampaikan Rachel Dougall juga klop dengan kesaksian mantan isteri simpanan Freddy tentang kondisi Lapas Cipinang. Dan kemungkinan besar, meskipun selalu dibantah pemerintah, kondisi ini juga terjadi di Lapas yang lain.
Rachel Dougall, yang merupakan warga Inggris, mengatakan bahwa saat dihukum selama satu tahun penjara di Bali karena kasus penyelundupan kokain senilai Rp 25 miliar, ia benar-benar menderita. Saat di penjara, ia sering dipukul dan ditendang oleh tahanan yang lain. Rachel Dougall, yang mengaku dijebak oleh temannya dalam kasus ini, mengaku ia menderita kudis setelah ditahan bersama dengan tahanan pecandu narkoba, tahanan dengan HIV-positif, dan juga dengan lesbian yang agresif secara seksual.
Ia pun, yang menyebut penjara di Bali dengan Hotel K itu, mengungkap sikap mendua Indonesia yang memungkinkan tahanan narkoba ditembak mati oleh regu tembak. Namun di saat yang sama, peredaran sabu dan narkoba itu justru juga terjadi di dalam penjara.
Bahkan, katanya, sebagian besar tahanan itu
nyabu setiap hari, dengan catatan asal punya uang untuk menyogok sipir. Dan bila punya uang juga, tahanan pria bisa menyewa dan mendatangkan pelacur ke dalam sel.
Kembali ke Aboe Bakar. Menurut Aboe Bakar, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 29/7), apa yang disampaikan Rachel Dougall ini merupakan bukti dan fakta ada mafia hukum di Lapas, yang memberikan fasilitas kepada para napi yang bisa membayar untuk menikmati narkoba dalam lapas. Tak heran bila selama ini narkoba bebas beredar dalam lapas, karena ada aparat yang membekingi distribusi itu.
"Selain itu apa yang disampaikan warga Inggis ini menambahkan fakta bahwa napi bisa memasukkan perempuan dan melakukan hubungan intim asalkan bayar kepada petugas," demikian Aboe Bakar.
[ysa]
BERITA TERKAIT: