Demikian kira-kira pandangan umum yang disampaikan Ketua Dewan Pembina Indonesia Maritime Institute (IMI) Prof Hasjim Djalal, Dewan Pembina IMI Prof Sahala Hutabarat dan Prof Dietriesh G Bengen.
Pandangan ini disampaikan ketiganya dalam diskusi maritim yang kembali digelar IMI. Diskusi yangdisertai dengan buka puasa bersama ini digelar di Newseum Coffee di bilangan Jakarta Pusat (Jumat, 26/7).
Diskusi tersebut dihadiri berbagai kalangan, baik mahasiswa, aktivis pemuda, LSM, dan dari TNI AL. Sebagai narasumber selain, Prof Hasjim Djalal Prof Sahala Hutabarat, dan Prof Dietriesh G Bengen, juga hadir Laksda TNI Ade Supandi dan Kadispenal Laksma TNI Untung Suropati.
Diskusi yang diwarnai semangat maritim itu berlangsung meriah. Tema utama diskusi itu adalag refleksi maritim 68 tahun kemerdekaan RI. Para narasumber memberikan pencerahan dan pendapat tentang kondisi maritim Indonesia saat ini.
Sementara itu, Laksda TNI Ade Supandi memberikan apresiasi kepada pemerintah yang sudah mulai memberi perhatian bagi peningkatan performa TNI AL sebagai institutsi yang bertugas untuk menjaga kedaulatan negara di laut, walaupun belum mencapai titik yang diharapkan.
"Saya tetap optimis bahwa dalam waktu tidak lama lagi, TNI AL akan menjadi kekuatan yang disegani di dunia dan dilengkapi dengan sistem persenjataan yang memadai. Meskipun sebenranya, saat ini TNI AL sudah layak disebut world class navy," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Ekesekutif IMI DR. Y. Paonganan kembali mengajak mahasiswa, pemuda dan aktifis untuk tidak berhenti menyuarakan pentingnya perubahan paradigam bangsa sebagai bangsa maritim.
"Bangsa Indonesia ke depan harus bervisi maritim," kata Paonganan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: