Demikian laporan Bank Dunia pada Maret 2013. Dalam laporan itu juga disebutkan faktor lain yang membuat ekonomi Indonesia tertekan. Yaitu meningkatnya pembayaran utang pokok dan bunga utang luar negeri yang menyedot devisa serta keselamatan ekonomi yang bergantung pada investasi fortopolio dan tambahan utang luar negeri yang justru akan mempercepat ekonomi ambruk.
Menurut Salamuddin Daeng dari Indonesia for Global Justice (IGJ) beberapa saat lalu (Senin, 15/7), data Dank Dunia juga mengemukakan bahwa di tahun 2012 defisit neraca berjalan mencapai 24,2 miliar dolar AS. Ini merupakan defisit setahun penuh pertama kali dalam 14 tahun terakhir, yang juga merupakan cerminan dari mengecilnya surplus perdagangan barang yang turun dari 34,8 miliar dolar AS di tahun 2011 menjadi 8,4 miliar dolar AS di tahun 2012.
Sementara itu, ungkap Salamuddin, paparan utang luar negeri swasta bruto terus meningkat, dengan kenaikan terutama terlihat pasca krisis keuangan global naik sebesar 70 persen dalam tiga tahun terakhir. Dan untuk pertama kalinya, utang luar negeri swasta bruto melampaui utang luar negeri pemerintah dan meningkatnya pertumbuhan pinjaman luar negeri yang melebihi dari pertumbuhan cadangan devisa.
Peningkatan utang luar negeri, katanya, telah mengakibatkan kebutuhan pembiayaan luar negeri Indonesia meningkat tajam sejak tahun 2011, dengan total pembayaran pengembalian utang tercatat sebesar 43 miliar dolar AS di kuartal ke-4 2012, atau naik dari 15 miliar dolar AS di kuartal ke-1 2011.
Sedangkan sekitar 88 persen dari utang luar negeri swasta saat ini merupakan utang yang berdenominasi dolar AS dan perusahaan perusahaan yang bergerak dalam sektor industri pengolahan, infrastruktur dan jasa keuangan berkontribusi hanya kurang dari setengah total utang swasta. Dengan demikian sebagian besar utang digunakan sektor spekulatif.
"Ketiga faktor tersebut merupakan sumber utama meningkatnya tekanan ekonomi, dan menjadi sebab dolar mengamuk di 2013," demikian Salamuddin.
[ysa]
BERITA TERKAIT: