Setelah Mubarok tumbang oleh
people power, Morsy menjadi Presiden Mesir. Morsy adalah politisi Ikhwan yang terpilih melalui pemilihan presiden langsung yang bebas.
Rabu malam tadi (3/7), militer mengkudeta Morsy. Bagaimana kira-kira langkah politik dan juga masa depan Ikhwan?
Pengamat politik Timur Tengah, Muhammad Jafar, menilai bahwa Ikhwan masih menunggu perkembangan, dengan banyak pertimbangan. Namun besar kemungkinan, Ikhwan tidak akan reaktif dan apalagi mengerahkan kekuatan fisik untuk melawan militer.
Di antara pertimbangan Ikhwan, kata Jafar kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 4/7), adalah keselamatan yang lebih banyak. Aktivis Ikhwan sadar betul bila melawan maka akan jatuh korban dari rakyat yang sangat banyak. Ikhwan juga yakin betul militer sudah mempertimbangkan resiko paling besar, termasuk mengalirkan darah.
Usaha militer menggunakan segala cara ini, ungkap Jafar, terlihat dari kondisi di Tahrir Square. Di Tahrir, belakangan, banyak pelecehan terhadap perempuan. Ini dicurigai sebagai bagian upaya dari pembuatan citra bahwa kondisi Mesir sudah tidak kondusif dan akhirnya melegitimasi kudeta militer.
"Instabilitas merupakan idiom politik di Mesir yang memiliki tradisi politik militer yang kuat," ungkap Jafar.
Ke depan, bila militer terus berkuasa, atau bila pada akhirnya kudeta ini melahirkan rezim diktator yang baru, Jafar memprediksi nasib Ikhwan di masa mendatang akan kembali sama seperti di masa lalu.
"Mungkin Ikhwan akan kembali mengalami refresifitas dari rezim," demikian Jafar.
[ysa]
BERITA TERKAIT: