Demikian disampaikan pengajar komunikasi politik di Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 2/7).
"Saya menilai, pendeklarasian Wiranto-Hary Tanoesudibjo terlalu dipaksakan oleh Hanura. Tiga partai besar yang diprediksikan berbagai lembaga survei akan meraup suara tertinggi di Pemilu 2014 yakni PDIP, Golkar dan Gerindra saja belum berani mendeklarasikan sekaligus pasangan capres-cawapres," ungkap Ari.
Ari, yang juga pengajar Program Pascasarjana di Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya dan Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta ini malah menduga dan curiga ada transaksi politik di balik deklarasi ini. Apalagi Hary Tanoe merupakan seorang pengusaha yang biasa menghitung dengan logika untung-rugi.
"Mana ada pengusaha yang mau rugi ? Dengan cepat HT akan meminta kompensasi untuk mengganti cost yang banyak dikeluarkan untuk Hanura," tandas Ari Junaedi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: