Tapi tidak demikian bagi gurubesar dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf. Asep melihatnya dari proses kaderisasi partai dan konsolidasi demokrasi.
"Justru ini terlambat. Harusnya dari dulu. Begitu juga dengan capres lain," kata Asep kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 2/7).
Asep mengatakan bahwa Pilpres harus banyak melibatkan partisipasi publik. Pun demikian, akses publik untuk menilai pasangan capres dan cawapres pun harus dibuka lebar-lebar sehingga publik bisa menilainya.
Di saat yang sama, lanjut Asep, publik pun bisa menilai kapasitas dan kualitas sang capres. Sehingga proses suksesi kepemimpinan nasional tidak terkesan instan, karena calon yang diusung pun sudah terlebih dahulu digodok sebelum ikut dalam kompetisi.
Dari sisi partai politik, pengumuman capres sejak awal, lanjut Asep, juga menunjukkan proses kaderisasi di tingkat internal berjalan dengan baik.
"Ke depan mungkin harus cepat diumukan siapa saja capres yang maju. Misal, untuk pemilu 2019, sudah diumumkan capresanya sejak 2016," demikian Asep.
[ysa]
BERITA TERKAIT: