PBB Tunggu Tindakan Kongkret SBY soal Kebakaran Hutan, Bukan Sekedar Permintaan Maaf

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Senin, 01 Juli 2013, 09:16 WIB
PBB Tunggu Tindakan Kongkret SBY soal Kebakaran Hutan, Bukan Sekedar Permintaan Maaf
sby/ist
rmol news logo . Permintaan maaf Presiden SBY kepada Malaysia dan Singapura terkait dengan kabut asap akibat kebakan di hutan Riau terus menuai perbincangan, setelah menuai kritik dari dalam negeri maupun sindiran dari elit di Malaysia.

Respon mencengangkan atas permintaan maaf ini disampaikan misalnya oleh DR Anwar Ibrahim. Meski awalnya Anwar terlihat respek dengan pernyataan SBY namun ujung-ujungnya juga menyampaikan kritik pedas. Bagi Anwar, dan juga warga Malaysia, adalah yang terpenting bukan minta maaf tapi tindakan nyata agar kasus serupa tak berulang setiap tahun.

Di dalam negeri sendiri, sudah banyak kritik disampaikan. Apalagi banyak di antara menteri yang tidak tahu bahwa Kepala Negara itu akan menyampaikan maafnya. Hal ini terlihat juga dari beberapa pernyataan menteri  yang normatif, namun yang penting tidak terkesan beda dengan SBY.

"Apakah ini kebiasaan baru Presiden SBY dengan twitter-nya sehingga sikap dan respons secara spontan dan sangat pribadi. Padahal ada domain pernyataan seorang presiden itu membawa kepentingan bangsa secara keseluruhan," kata Ketua Partai Bulan Bintang (PBB), Tumpal Daniel, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 1/7).

Daniel pun menilai pernyataan maaf ini langkah yang tidak tepat. Hal ini juga tercermin dari berbagai kritik dari kalangan civil society. Bahkan tokoh sekelas Jusuf Kalla pun mengatakan bahwa semestinya Malaysia dan Singapura berterimakasih kepada Indonesia karena telah menghirup oksigen gratis dari Indonesia selama 11 bulan sebelumnya, ketimbang menikmati menghirup asap yang cuma sebulan.

"Yang pasti, kita menunggu tindakan kongkret penegakan hukum kepada para perambah hutan yang merusak dengan cara membakar dan bukan pernyataan maaf yang terkesan mencari simpati untuk pencitaraan yang kurang berarti," demikian Daniel. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA