Demikian dikatakan pengamat politik dari Universitas Indonesia, Iberamsjah, dalam rilis yang diterima
Rakyat Merdeka Online, beberapa sesaat lalu (Jumat, 28/6).
SBY, ujarnya, dalam konteks itu adalah sosok kepala rumah tangga yang tidak tegas terhadap istrinya yaitu anggota koalisi, termasuk kepada anak-anak, dalam hal ini rakyat Indonesia. Mereka pun menjadi korban dari ketidakharmonisa hubungan tersebut.
"Jadi hubungan dalam pemerintahan SBY ini kalau saya cermati persis seperti sebuah rumah tangga poligami," kata Iberamsjah.
Bahkan, hubungan itu menurut dia bak adegan sinetron rumah tangga bermasalah. Karena tidak tegas dalam pemimpin rumah tangga, "istri-istri" SBY pun banyak melakukan protes termasuk anak-anaknya yang kemudian menjadi korban.
"Partai Demokrat yang merasa istri paling tua protes dan meminta SBY sebagai suami menceraikan PKS yang diaggap sebagai seorang istri yang tidak loyal dan suka selingkuh. Istri-istri lain pun ikutan protes,†kata Iberamsjah.
Para istri-istri SBY melayangkan protes, menurut dia, sebenarnya lebih pada rasa cemburu dan juga keinginan untuk mendapatkan perhatian lebih dari sang suami. Mereka istri-istri lainnya seperti Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) protes dengan alasan ketidaksetiaan istri yang bernama PKS. Mereka menginginkan agar nafkah lahir batin yang seharusnya untuk PKS dibagi atau diberikan kepada mereka.
Dengan desakan ini, lanjut Iberamsjah, SBY menjadi pusing memikirkan jalan keluar antara menceraikan PKS atau tetap mempertahankannya. Dalam kondisi seperti itu, SBY berada dalam dilema.
"Dia (SBY) harus memilih membela istri atau kemungkinan mendapatkan perlawanan dari anak-anaknya yaitu rakyat karena sikap istri PKS yang seperti membela kepentingan rakyat," katanya.
Wajar SBY dilematis. Iberamsjah mengatakan kalau meneruskan mahligai rumah tangga dengan PKS tentunya tidak sehat bagi kehidupan rumah tangga. Tapi menceraikan PKS, SBY khawatir karena gaya PKS yang seperti membela anak-anaknya dalam hal ini rakyat, justru mendapatkan simpati.
"SBY dihadapkan pada pilihan yakni dimusuhi istri-istrinya atau dimusuhi anak-anaknya," demikian Iberamsjah.
[ysa]