"Rendahnya penyerapan ini mencerminkan masih lemahnya perencanaan dan pengelolaan anggaran yang ada pada setiap kementrian. Dan memang masih lemahnya peraturan yang ada pada setiap kementrian. Ditambah lemahnya kapasitas birokrasi yang ada," kata anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ecky Awal Mucharam, beberapa saat lalu (Kamis, 20/6).
Berdasarkan rilis yang diterbitkan oleh Kementrian Keuangan, hingga per 7 Juni 2013, realisasi belanja Negara hanya 32 persen dari pagu 2013. Penyerapan terparah ada pada belanja modal yang baru terealisasi 14 persen dari pagu anggaran. Sedangkan serapan yang tertinggi saat ini ada pada belanja pegawai sebesar 40,2 persen.
Ecky menyayangkan karena penyerapan anggaran sebagai penggerak roda perekonomian pertumbuhannya melambat di saat rencana pemerintah yang akan segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pada kondisi tekanan ekonomi global saat ini.
"Coba bayangkan, pada tahun 2004 APBN kita Rp 400 triliun sedangkan pada tahun 2013 APBN kita meningkat Rp 1.600 triliun. Ini naik empat kali lipat, beban meningkat pesat tapi tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas birokrasi baik dari sisi SDM dan aturan yang ada, pelaksanaan yang tetap setiap tahunnya yang tidak ada penyesuaian," demikian Ecky.
[ysa]
BERITA TERKAIT: