Pertemuan tersebut sedianya merupakan kelanjutan dari pertemuan pejabat rendah di Panmunjom yang baru berlangsung setelah kebekuan dialog selama lebih dari dua tahun. Pertemuan di Panmunjom dan Seoul ini digelar untuk membicarakan kembali, antara lain, pembukaan kompleks industri Kaesong yang ditutup April lalu.
Seoul menginginkan seorang pejabat senior di Partai Pekerja Korut, Kim Yang-gon, yang dikenal sebagai penasihat dekat pemimpin Korut Kim Jong-un menghadiri pertemuan itu. Sementara Pyongyang mengatakan, hal itu tidak mungkin dilakukan karena secara protokoler Kim Jong-gan terlalu senior untuk pertemuan ini.
Di sisi lain, Pyongyang mengatakan bahwa penyebab utama keengganan mereka mengirimkan delegasi bukan karena permintaan tersebut, melainkan karena sinisme yang dikembangkan delegasi dalam pertemuan pembuka di Panmunjom.
"Masalahnya tidak sederha berkaitan dengan persoalan siapa yang memimpin delegasi dalam pertemuan, tetapi lebih karena manifestasi dari sinisme yang dilakukan (Korea Selatan)," demikian pernyataan Komite Reunifikasi Damai Korea yang dirilin kantor berita
KCNA di Pyongyang.
Sejumlah pengamat dan pakar isu Korea memperkirakan tidak mudah menggelar pertemuan untuk pembicaraan damai menyusul sejumlah insiden beberapa tahun terakhir ini.
"Perang urat syaraf berarti tidak terlihat akan ada terobosan mudah yang akan membawa (kedua Korea) pada dialog dalam waktu dekat," ujar Yang Moo-jin dari University of North Korean Studies di Seoul seperti dikutip
Reuters.
Sementara Jang Jin-sung, seorang mantan pejabat Korea Utara yang sekarang memimpin website informasi
New Focus International mengatakan bahwa Korea Utara memiliki prilaku yang sudah bisa ditebak, membuat ketegangan, sebelum akhirnya meminta bantuan sebagai kompensasi atas ketegangan itu.
[ian]
BERITA TERKAIT: