MANUFACTURING HOPE 71

Jangan Biarkan Pertamina Jadi Bahan Ejekan Sepanjang Masa

Oleh: Dahlan Iskan, Menteri BUMN

Senin, 01 April 2013, 09:36 WIB
Jangan Biarkan Pertamina Jadi Bahan Ejekan Sepanjang Masa
Dahlan Iskan
rmol news logo .Hampir saja saya merasa bahagia yang berkepanjangan. Yakni ketika mengetahui bahwa laba PT Pertamina (Persero) berhasil mencapai Rp 25 triliun. Itulah laba terbesar dalam sejarah Pertamina.

Juga laba terbesar di lingkungan BUMN. Bahkan laba terbesar yang bisa dicapai oleh sebuah perusahaan apa pun di Indonesia sepanjang tahun 2012.

Saya pun minta agar Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengumumkannya. Agar capaian yang hebat itu bisa membuat masyarakat bangga pada Pertamina. Setidaknya bisa mengurangi ejekan sinis masyarakat kepada Pertamina.

Maka pada laporan keuangan kepada publik bulan lalu, disertakanlah judul ini: Pertamina berhasil memperoleh laba terbesar dalam sejarahnya.

Melalui twitter (@iskan_dahlan) saya pun ikut membagi kebahagiaan itu. Tentu saya ingin memberikan penghargaan pada jajaran Pertamina.

Berita gembira itu juga saya manfaatkan untuk kampanye menumbuhkan harapan umum.

Manufacturing hope. Yakni bahwa perbaikan dan kerja keras yang dilakukan jajaran Pertamina sudah mulai memberikan hasil yang nyata. Berarti kalau per­baikan, efisiensi, dan kerja teras terus dilakukan, hasilnya akan lebih hebat lagi.

Saya ingin ada satu harapan un­tuk dunia twitter, khususnya yang terkait dengan politik, yang terlalu di­dominasi oleh pesimisme dan pu­tus harapan. Pesimisme perora­ngan adalah hak, tapi pe­simisme massal bisa membawa kehancuran.

Saya pun segera memba­yang­kan bahwa masyarakat akan ikut bahagia mengikuti twit per­kem­ba­ngan terbaru di Pertamina itu. Dan saya akan menggunakan ke­ba­hagiaan masyarakat tersebut untuk terus memacu kinerja ma­na­jemen Pertamina. Misalnya lif­ting minyak yang harus naik untuk menjadikan Pertamina peru­sa­ha­an minyak kelas regional.

Sekarang ini Pertamina baru bisa menghasilkan minyak 500 ribu barel per hari. Jauh dari kelas pe­rusahaan minyak tingkat Asean sekali pun. Karena itu ta­hun ini Pertamina membentuk Brigade 300K. Terdiri dari anak-anak muda Pertamina yang umur­nya maksimum 29 tahun. Brigade ini bertugas menambah produksi minyak Pertamina 300 ribu barel lagi per hari. Inilah bri­gade yang akan membuat pro­duksi total Pertamina menjadi 800 ribu barel. Dan target itu harus tercpai akhir tahun depan. Di da­lamnya dihitung produksi energi geothermal yang disetarakan de­ngan minyak.

Tiap bulan saya mengikuti per­kem­bangan Brigade 300K ini. Termasuk ikut mencarikan jalan keluar kalau terjadi hambatan di luar ­Pertamina. Misalnya bagai­mana Pertamina bisa menjual geothermalnya ke PLN dengan cepat. Kesepakatan pun segera dicapai: sembilan lokasi geother­mal milik Pertamina yang skala­nya besar-besar itu bisa segera dikerjakan.

Tapi semua itu belum cukup. Ha­rapan masyarakat terhadap Pertamina memang sangat be­sar. Pengumuman mengenai be­sarnya laba yang berhasil dicapai Pertamina itu, misalnya, ternyata belum bisa membahagiakan ma­syarakat. Mereka menginginkan Pertamina yang jauh lebih hebat. Mereka tidak mempersoalkan laba, omset, dan sebangsanya. Ma­syarakat menginginkan Perta­mina yang membanggakan.

Masyarakat ternyata langsung membandingkannya dengan Petronas, Malaysia.
“Laba Petronas Rp 160 triliun!” ujar follower twitter saya.

Saya pun tersadar dari lamunan ke­bahagiaan. Terbangun. Keba­ha­giaan saya akan prestasi Per­ta­mina itu ternyata hanya ber­langsung kurang dari lima menit. Padahal semula saya mengira ke­bahagiaan itu akan berl­ang­sung selama setahun penuh. Lalu disambung dengan kebahagiaan berikutnya manakala melihat hasil kerja jajaran Pertamina tahun 2013.

Ternyata hukum kebahagiaan tidak seperti itu. Bahagia itu bisa naik dan tiba-tiba bisa anjlok. Kebahagiaan saya itu langsung lenyap saat membaca twit pem­bandingan antara laba Pertamina dan laba Petronas.

Itu persis seperti kebahagiaan seorang pembina sepakbola di Indonesia. Setidaknya seperti yang saya alami selama me­mim­pin Persebaya dulu. Begitu peluit panjang berbunyi dan Persebaya menang, bahagianya bukan main. Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung sekitar lima menit. Begitu keluar dari garis lapangan, para wartawan langsung me­nge­rubung dengan pertanyaan yang mengakhiri kebahagiaan itu: be­rapa juta bonus yang akan di­be­ri­kan kepada setiap pemain. Ma­ka kebahagiaan pun langsung ber­alih ke bagaimana cara men­da­patkan uang untuk membayar bo­nus saat itu juga.

Begitulah pula soal keba­ha­gia­an Pertamina ini. Begitu kicauan mengenai laba Petronas tersebut saya baca hati saya langsung terbakar. Saya benar-benar geli­sah. Pikiran saya dipenuhi per­ta­nyaan ini: bagaimana cara me­nge­jar Petronas. Sudah lama ma­syarakat tidak bisa menerima ka­lau Pertamina sampai kalah dari Petronas. Apalagi kalahnya telak.

Ketika berada di Rumah Sakit Tianjin untuk check-up rutin tahu­nan pekan lalu, saya memiliki wak­tu merenung lebih panjang. Saya utak-atik berbagai ke­mung­kinan untuk bisa mengejar Pet­ro­nas. Saya browsing di internet. Saya pelajari angka-angka. Ke­kalahan Pertamina atas Petronas itu ternyata sudah sangat lama. Sudah lebih 30 tahun. Grafiknya pun kian memburuk.

Tapi apa yang bisa diperbuat? Sungguh tidak mudah mene­mu­kan jalannya. Padahal soal ke­ka­lahan Pertamina ini sudah bukan lagi soal kekalahan sebuah pe­ru­sahaan biasa. Ini sudah me­nyang­­kut harga diri negara dan bang­sa. Ini sudah soal merah putih. Per­ta­mina sudah menjadi lambang ne­gara. Di bidang sawit kita sudah bisa mengejar Malay­sia. Garuda Indonesia sudah me­ngalahkan Ma­laysia Airlines. Se­men dan pu­puk kita sudah jauh di depannya. Di bidang pela­bu­han kita sedang mengejarnya de­ngan proyek PT Indonesia Port Cor­poration (Pe­lin­do II) yang insya­allah pasti bisa.

Tapi kita masih belum bisa me­ne­mukan jalan untuk Pertamina. Program-program Pertamina yang ada sekarang memang am­bisius, tapi baru akan bisa me­m­buat Per­tamina masuk ke jajaran per­u­sa­haan minyak kelas regio­nal. Masih jauh dari prestasi Petronas.

Memang ada jalan pintas. Bah­kan sangat cepat. Semacam jalan tol di Jerman.
Maksudnya, jalan tol yang tidak pakai bayar. De­ngan jalan ini Pertamina bisa me­ngalahkan Petronas hanya dalam waktu empat tahun. Setidaknya sudah bisa membuatnya sejajar de­ngan Petronas. Tapi saat saya menulis naskah ini, di sebuah ruang check-up Rumah Sakit Tian­jin, saya terpikir kesulitan-kesulitannya: “jalan tol” itu bukan milik Pertamina. “Jalan tol” itu milik perusahaan luar negeri yang akan habis izinnya tahun 2017 nanti: Blok Mahakam.

Saya pun minta Dirut Perta­mina, Karen Agustiawan, untuk mem­buat kalkulasi ini: seandai­nya Blok Mahakam kembali se­penuhnya ke negara, dan negara menye­rah­kannya ke Pertamina, be­rapa laba Pertamina di tahun 2018? Dan ta­hun-tahun berikutnya?

Dengan cepat jawaban Karen masuk ke HP saya: Rp 171 triliun.

Saya tidak tergiur dengan ang­ka itu. Saya lebih tergiur pada ba­ya­ngan betapa  bangganya kita me­miliki Pertamina yang tidak lagi diejek-ejek sepanjang masa.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA