MANUFACTURING HOPE 69

Tahun Dag-dig-dug Tidak Hanya Untuk Politisi

Oleh: Dahlan Iskan, Menteri BUMN

Senin, 18 Maret 2013, 09:24 WIB
Tahun Dag-dig-dug Tidak Hanya Untuk Politisi
Dahlan Iskan
rmol news logo .Meninggalnya beberapa orang sakit yang tidak mendapatkan kamar di rumah sakit Jakarta, menjadi salah satu topik diskusi dies natalis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia awal bulan ini.

Sejak diberlakukannya Kartu Jakarta Sehat (KJS), jumlah orang yang datang ke rumah sakit memang meningkat tiga kali lipat. “Ibaratnya, digigit nyamuk pun sekarang masuk rumah sakit,” ujar seorang dokter di forum itu. “Akibatnya, yang sakit sungguhan tidak kebagian tempat,” tambahnya.

Saya mencatat seluruh pemikiran para dokter hari itu. Ini karena PT Askes (Persero) yang sekarang masih di bawah Kementerian BUMN harus bisa menyiapkan diri untuk menyambut era baru: mulai 1 Janurai 2014 nanti 86 juta orang miskin harus dilayani keperluan kesehatannya secara gratis. Pertanyaan besarnya: siapkah Askes?

Dirut PT Askes yang baru, Dr dr Fachmi Idris, beserta seluruh jajarannya, hari-hari ini konsentrasi penuh untuk mempersiapkan semua itu.

Waktu tidak banyak lagi. Internal masih banyak masalah yang harus diselesaikan: bagaimana status pegawai Askes nanti setelah Askes bukan lagi BUMN, bagaimana jenjang karirnya, dan seterusnya.

Ketika menyaksikan mereka tampil dengan penuh percaya diri (ada yang bicara dalam ba­hasa Mandarin, Canton, dan sebagian lagi dalam bahasa Ing­gris), saya angkat topi pada para TKW itu. Juga kepada para ins­truktur yang sudah berhasil mem­buat mereka berubah.

Antonius Tanan, Rektor Uni­versitas Ciputra Ent­re­p­re­neur­ship Center dan timnya rupanya ti­dak hanya telah mengajar tapi lebih-lebih telah memotivasi mereka.
Antonius rupanya berhasil menemukan faktor utama untuk memotivasi mereka: keluarga. Semua wanita yang pergi ke Hongkong untuk menjadi TKW itu adalah mereka yang berjuang untuk keluarga.

Lebih dari 2/3 yang ikut pro­gram ini berstatus ibu rumah tang­ga. Mereka meninggalkan anak yang masih kecil dan suami mereka. Hanya dorongan yang amat kuat untuk memperbaiki ekonomi keluargalah yang mem­buat mereka rela berpisah ber­tahun-tahun.

Tentu anak-anak mereka amat sedih tumbuh tanpa ibu. Anak-anak itu juga amat rindu pada kasih sayang ibunda. Kesedihan dan kerinduan anak-anak yang ditinggal di kampung itulah yang direkam dalam bentuk video dan diputar di depan kelas. Kelas bisnis itu hening. Lalu terdengar isak tangis. Mereka menangis. Juga saya. Juga Dirut Bank Man­diri Zulkifli Zaini.

Tapi di kelas itu Antonius tidak mau menimbulkan kesan bahwa mereka adalah ibu-ibu yang tega. Antonius lebih mem­berikan gambaran betapa Sang Ibu sebenarnya juga amat sedih meninggalkan anak-anak kecil mereka. Sang Ibu meninggalkan anak-anak itu bukan karena tega tapi justru demi anak itu sendiri. Demi masa depan mereka. Pen­didikan mereka. Meninggalkan anak untuk anak itu sendiri.

Memang kenyataannya ba­nyak ibu yang lantas tergantung pada penghasilan sebagai TKW. Selesai kontrak dua tahun me­re­ka balik lagi ke Hongkong dua ta­hun berikutnya. Berikutnya lagi. Begitu seterusnya hingga ba­nyak yang sudah delapan ta­hun masih juga belum bisa kem­bali berkumpul dengan anak.

Bisnislah yang akan bisa mem­buat mereka kembali ber­kumpul dengan keluarga. Ke­rinduan akan keluarga itu harus jadi motivasi utama untuk me­mulai bisnis.

Ilmu diberikan. Cara disi­mu­la­sikan. Jalan ditunjukkan. Ta­bu­ngan ada. Kemampuan di­mun­cul­kan. Percaya diri sudah ting­gi. Tekad sudah membaja. Te­r­ut­ama tekad untuk kumpul keluarga.

Melihat semua itu, hari itu, saya putuskan tidak jadi pidato. Tidak jadi mengajar. Pidato su­dah tidak akan penting lagi. Me­reka sudah begitu siap memulai bisnis di kampung masing-ma­sing. Saya hanya menyampaikan keyakinan bahwa mereka bisa.

Bisnis itu yang paling sulit ada­lah memulainya. Sedang me­reka sudah sangat siap memulai. Yang juga sulit adalah mengu­bah sikap dari seorang pe­ngang­gur atau seorang pekerja menjadi seorang pengusaha. Sedang me­reka sudah siap berubah.

Orang yang sulit berubah akan sulit jadi pengusaha. Padahal me­reka adalah orang-orang yang su­dah membuktikan bahwa diri­nya pernah membuat perubahan besar dalam hidupnya. Yakni wak­tu mereka memutuskan berani meninggalkan kampung ha­laman untuk pergi ke Hongkong.

Itu adalah sebuah perubahan yang amat besar yang pernah me­reka buat. Ini modal penting un­tuk perubahan berikutnya: dari pekerja ke calon juragan pekerja.

Waktu saya tamat Madrasah Aliyah (SMA) dan memutuskan meninggalkan kampung hala­man di pelosok desa di Magetan untuk merantau ke Kaltim, itulah perubahan terbesar dalam hidup saya. Waktu memutuskan itu ra­sanya dunia seperti mau kiamat.
 Gelap dan kalut. Putuslah semua akar kehidupan. Apalagi harus meninggalkan Aishah.
Padahal para TKW itu tidak se­kadar ke Kaltim yang hanya beda propinsi, melainkan ke ne­gara orang lain dengan bahasa dan budaya yang amat berbeda.

Program Bank Mandiri ini su­dah berlangsung tiga angkatan. Berarti sudah 1.500 TKW yang su­dah dan siap berubah jadi pe­ngusaha. Lulusan angkatan pertama yang kini sudah jadi pengusaha sapi perah dan resto lesehan di Purwokerto, Kartilah,  ditampilkan sebagai role model. Ia juga membawa anaknya yang kini sudah SMA, yang dulu ber­tahun-tahun ditinggalkannya.

“Waktu saya kembali dari Hongkong mengakhiri status sebagai TKW saya tidak lang­sung pulang,” ujar Kartilah de­ngan gaya yang sudah benar-be­nar pengusaha.  “Saya langsung ke pasar sapi. Beli sapi,” katanya.

“Kalau pulang dulu, bisa-bisa tertarik beli-beli yang lain dan ga­gal jadi pengusaha,” tambah Kar­tilah. Itu menandakan kuat­nya mo­tivasi untuk menjadi pengusaha.

Salah seorang peserta pro­gram ini, yang juga sudah siap bisnis di Malang, punya permin­taan ke Bank Mandiri: agar ada pendi­dikan serupa untuk para suami mereka di kampung. Dia khawatir usaha mereka tidak lancar hanya karena suami tidak mendukung.

Program Bank Mandiri ini sa­ngat membanggakan. Begitu in­tensifnya program bisnis ini sam­pai-sampai saya merasa seperti tidak sedang di tengah-tengah TKW. Saya lebih merasa sedang dalam kelas MBA yang besar!

“Kami akan lanjutkan pro­gram ini,” ujar Zulkifli Zaini. Te­puk tangan menggemuruh.
Bank Mandiri yang juga me­miliki program besar Wirausaha Muda Mandiri untuk mahasiwa, akan terus diberkahi oleh Yang Ma­hakuasa. Kini labanya men­ca­pai rekor terbesar dalam seja­rah Bank Mandiri: Rp 15,5 triliun.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA