MANUFACTURING HOPE 66

Simpul-simpul Terlalu Yang Akan Berhadiah

Oleh: Dahlan Iskan, Menteri BUMN

Senin, 25 Februari 2013, 08:31 WIB
Simpul-simpul Terlalu Yang Akan Berhadiah
Dahlan Iskan
RMOL.PARA pimpinan PT Jasa Marga (Persero) Tbk belakangan harus memeras otak lebih keras. Dua tugas khusus amat mendesak untuk dicarikan jalan keluar: mengatasi kemacetan di jalan tol dan mengubah sistem pembayaran di pintu-pintu tol. Begitu khususnya, sampai-sampai hampir seminggu sekali saya tagih kemajuannya.

Untuk mengatasi kemacetan memang tidak gampang. Tapi setidaknya sudah berhasil diinventarisasikan di titik-titik mana saja kemacetan itu terjadi dengan parahnya. Ada dua jenis kemacetan. Yang bisa diselesaikan cepat dengan langkah yang sederhana, dan yang harus melalui jalan yang panjang. Maka fokus diberikan kepada yang bisa cepat-cepat dilakukan.

Misalnya kemacetan di jalan layang Tomang dari arah Kebon Jeruk. Ternyata banyak lubang di ketinggian yang sulit dijangkau itu. Aneh juga di ketinggian seperti itu bisa banyak lubangnya. Akibatnya semua kendaraan melakukan pengereman mendadak. Macet.

Hanya saja saya memang sudah lama ingin melakukan ini: cuci otak. Sejak masih jadi Di­rektur Utama Perusahaan Listrik Negara dulu. Keinginan itu ter­tunda terus oleh kesibukan yang padat, terutama setelah menjadi Menteri BUMN. Bahkan ke­ingi­nan untuk coba-coba mela­kukan stemcell pun tertunda sampai sekarang.

Mencoba merasakan cuci otak ini bisa dianggap penting, bisa juga tidak. Saya ingin men­cobanya karena ini merupakan metoda baru untuk mem­be­r­sih­kan saluran-saluran darah di otak. Agar terhindar dari bahaya stroke atau pendarahan di otak. Dua bencana itu biasanya da­tang tiba-tiba. Kadang tanpa ge­jala apa-apa. Dan bisa menimpa siapa saja.

Saya tahu metode cuci otak Dokter Terawan ini masih kon­tro­versial. Kalangan dokter ma­sih terbelah pendapat mereka. Masih banyak dokter yang be­lum bisa menerimanya sebagai bagian dari medical treatment.

Pengobatan model Dokter Te­ra­wan, ahli radiologi yang ber­umur 48 tahun, yang berpartner dengan dokter Tugas, ahli syaraf yang berumur 49 tahun, ini masih terus dipersoalkan. Dia masih sering “diadili” di rapat-rapat profesi kedokteran.

Saya terus mengikuti per­kembangan pro-kontra itu. Ter­masuk ingin tahu sendiri secara langsung seperti apa cuci otak itu. Dengan cara menjalaninya. Ke­sem­patan itu pernah datang tapi beberapa kali tertunda. Ini karena ada pasien yang lebih men­desak untuk ditangani. Seba­gai orang sehat saya harus mengalah.

Kamis malam lalu kese­m­patan itu datang lagi. Usai sidang kabinet di Istana, saya langsung masuk RSPAD Gatot Subroto. Berbagai pemeriksaan awal dila­kukan malam itu: pe­riksa darah, jantung, paru dan MRI. Dan yang juga penting di­lakukan dok­ter Tugas adalah ini: peme­taan sya­raf otak. Be­be­rapa test dilakukan. Untuk me­ngetahui kondisi syaraf mau­pun fungsi otak.

Keesokan harinya, pagi-pagi, saya sudah bisa menjalani cuci otak di ruang operasi. Saya su­dah tahu apa yang akan terjadi ka­rena dua minggu sebelumnya istri saya sudah lebih dulu men­ja­laninya. Saat itu saya me­nyak­sikan dari layar komputer.

Cuci otak ini dimulai dengan iri­san pisau di pangkal paha. Saat mengambil pisau, seperti biasa, adalah saat dimulainya Dokter Terawan menyanyikan lagu ke­sukaannya: Di Doa Ibuku.

Perhatian saya pun terbelah: mendengarkan lagu itu atau siap-siap merasakan torehan pisau ke pangkal paha yang tidak dibius. Tiba-tiba Dokter Terawan me­nge­raskan suaranya yang me­mang merdu. Saya pun kian memperhatikan lagu itu.

Saat puncak perhatian saya ke lagu itulah rupanya Dokter Tera­wan menorehkan pisaunya. Ti­puan ini berhasil membuat rasa sakit hanya melintas sekilas. Dan Dokter Terawan terus menyanyi:

Di waktu masih kecil
Gembira dan senang
Tiada duka kukenang
Di sore hari nan sepi
Ibuku berlutut
Sujud berdoa
Kudengar namaku disebut
Di doa ibuku

Sebuah lagu yang isinya ku­rang lebih saya alami sendiri saat saya masih kecil, sebelum ibu saya meninggal saat saya ber­umur 10 tahun. Otomatis per­ha­ti­an saya ke lagu itu. Itulah cara Dok­ter Terawan membius pasiennya.

Saya jadi teringat saat mema­suki ruang operasi menjelang gan­ti hati enam tahun yang lalu di RS Tianjin, Tiongkok. Ruang operasi dibuat hingar bingar oleh lagu rock yang lagi top-topnya saat itu di sana: Mei Fei Se Wu, yang berarti bulu mata menari-nari. Sebelum lagu berbahasa mandarin itu berakhir saya sudah tidak ingat apa-apa lagi: saya dimatikan selama 13 jam.

Demikian juga Dokter Tera­wan. Sambil terus menyanyikan Di Doa Ibuku ia mulai me­ma­suk­kan kateter dari luka di pang­kal paha itu. Lalu mendorongnya menuju otak. Kateter pun terlihat memasuki otak kanan. “Sebentar lagi akan ada rasa seperti mint,” ujar Terawan.

Benar. Di otak dan mulut saya terasa “pyar” yang lembut di­sertai rasa mentos yang ringan. Itulah rasa yang ditimbulkan oleh cairan pembasuh yang disemprotkan ke saluran darah di otak. “Rasa itu muncul karena sensasi saja,” katanya.

Hampir setiap dua detik terasa lagi sensasi yang sama. Berarti Dokter Terawan me­nyem­prot­kan lagi cairan pembasuh lewat lubang di dalam kateter itu. Saya mulai menghitung berapa “pyar” yang akan saya rasakan. Kateter itu terus menjelajah bagian-ba­gian otak sebelah kanan. Pyar, pyar, pyar. Lembut. Mint. Ter­nyata sampai 16 kali.

Begitu dokter mengatakan pembersihan otak kanan sudah selesai saya melirik jam. Kira-kira delapan menit. Kateter lan­tas ditarik. Ganti diarahkan ke otak kiri. Rasa “pyar-mint” yang sama terjadi lagi. Saya tidak menghitung. Perhatian saya ber­alih ke pertanyaan yang akan saya ajukan seusai cuci otak nanti: mengapa dimulainya dari otak kanan?

Usai mengerjakan semua itu, Terawan menjawab. “Karena terjadi penyumbatan di otak kiri Bapak,” katanya.

Hah? Penyumbatan? Di otak kiri? Mengapa selama ini tidak terasa? Mengapa tidak ada gejala apa-apa? Mengapa saya seperti orang sehat 100 persen?

Dokter Terawan, kolonel TNI AD yang lulusan Universitas Ga­jah Mada Yogyakarta dengan spesialisasi radiologi dari Universitas Airlangga Surabaya itu, lantas menunjuk ke layar komputer. “Lihat sebelum dan sesudahnya,” ujar Terawan.

Sebelum diadakan pencucian, terlihat satu cabang saluran da­rah yang ke otak kiri tidak tam­pak di layar. “Mestinya bentuk saluran darah itu seperti lambang Mercy. Tapi ini tinggal seperti lambang Lexus,” katanya.

Setiap orang ternyata me­mi­liki lambang Mercy di otaknya. “Nah, setelah yang buntu itu dijebol lambang Mercynya su­dah kembali,” katanya sambil me­nunjuk layar sebelahnya. Je­las sekali bedanya.

Karena saluran yang buntu itu maka beban gorong-gorong di otak kanan terlalu berat. “Lama-lama bisa terjadi pembengkakan dan pecah,” katanya. “Lalu terjadilah perdarahan di otak,” tambahnya.

Alhamdulillah. Puji Tuhan. Saya pun langsung teringat Pak Su­maryanto Widayatin, Deputi Menteri BUMN bidang In­fra­struktur dan Logistik yang hebat itu. Yang juga ketua alumni ITB itu. Yang idenya banyak itu. Yang terobosan birokrasinya ta­jam itu. Sudah hampir setahun ter­baring tanpa bisa bicara dan hanya sedikit bisa mengge­rak­kan anggota badan.

Saluran darah ke otaknya pe­cah justru di tengah tidurnya men­jelang dini hari. Saya sung­guh menyesal tidak me­nya­ran­kan­nya ke Terawan sebelum itu. Penyesalan panjang yang tidak berguna. Kini, setelah perawatan yang panjang oleh istrinya yang hebat, Pak Sum memang terlihat kian segar dan pikirannya tetap hidup bergairah, tapi masih perlu banyak waktu untuk bisa bicara.

Setelah cuci otak ini berhasil membersihkan gorong-gorong yang buntu, saya kembali ke ka­mar. Kaki tidak boleh bergerak selama tiga jam. Tapi sore itu saya sudah bisa terbang ke Su­rabaya. Untuk merayakan imlek bersama masyarakat Tionghoa dan besoknya mengadakan kha­taman Al Quran bersama para hufadz di rumah saya.

Tiap hari Dokter Terawan si­buk dengan antrean yang pan­jang. Ada yang karena sakit ada juga yang karena ingin tetap se­hat. Bagi yang cito! akan lang­sung di­tangani. Tapi bagi yang sehat an­trenya sudah mencapai tiga bulan. Ini karena hanya se­ki­tar 15 orang yang bisa di­ta­nga­ni setiap hari. Lebih dari itu bisa-bisa Terawan sendiri yang akan me­ngalami pendarahan di otaknya.

Belum diterimanya metode ini oleh dunia kedokteran di seluruh dunia membuat gerak Terawan terbatas. Misalnya tidak bisa se­cara terbuka mengajarkan ilmu­n­ya itu ke dokter-dokter lain agar antrean tidak terlalu panjang. Sampai hari ini baru dialah satu-satunya di dunia yang bisa me­lakukan cara ini.

Kalau profesi dokter tidak se­gera bisa menerima metode ini, jangan-jangan Persatuan In­si­nyur Indonesia yang akan segera mengakuinya. Anggap saja Tera­wan ahli membersihkan gorong-gorong yang buntu. Hanya saja go­rong-gorong itu letaknya tidak di Bundaran HI.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA