"Kalau soal SBY menjadi tokoh dunia, kami rasa biar masyarakat Indonesia dan dunia sendiri yang menentukan dan menilai," ujar Chief Editor
The Jakarta Post, Meidyatama Suryodiningrat, kepada
Rakyat Merdeka Online (Kamis, 7/2).
Dia mengungkapkan itu saat dimintai tanggapan atas pernyataan Staf Khusus Presiden, Andi Arief. Andi Arief menilai harian berbahasa Inggris itu tak ingin SBY jadi tokoh dunia karena memberitakan soal pajak keluarga SBY saat Presiden sebagai pemimpin negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia berbicara di sidang OKI di Mesir menyatukan Syiah dan Sunni.
Lagi pula, menurut Meidyatama, seseorang menjadi tokoh itu bukan karena kampanye PR atau jabatan, tapi dari karya dan jasa nyata yang telah disumbangkan. Dan itu pun bukan karena minta ditokohkan oleh yang bersangkutan.
"Orang-orang seperti (Nelson) Mandela, Aung San Suu Kyi dan sebagainya, ikhlas dan murni dalam berikhtiar tanpa pusing apakah mereka mendapat imbalan untuk 'ditokohkan'," sambung Meidyatama.
The Jakarta Post sendiri percaya Presiden SBY tidak narsis dan bekerja untuk ditokohkan. Tapi, sebaliknya Presiden SBY diyakini menjadi presiden untuk berkarya pada rakyat. "Bukannya lebih baik menjadi seseorang yang diapresiasi dengan tulus oleh bangsa sendiri daripada menjadi
celebrity dunia?" demikian Meidyatama.
[zul]