Ternyata nama padang bulan sudah begitu generiknya. Inilah pengajian yang tema pokok bahasannya adalah rumput laut. Bukan ditinjau dari segi agama, tapi bagaimana rumput laut menyejahterakan seluruh masyarakat desa Randu Sanga yang dulunya dikenal sebagai desa nelayan yang miskin.
Ada dua jenis rumput laut. Yang di Brebes ini, sebagaimana juga yang ada di daerah-daerah sebelahnya seperti Cirebon dan Indramayu, rumput lautnya disebut
gracilaria. Bentuknya lebih kecil seperti rumput Jepang dan kegunaan utamanya untuk agaragar. Pasarnya sangat luas. Berapa pun akan terserap.
Dulu, para petani tambak di Randu Sanga hanya meÂnganÂÂdalkan hidupnya dari meÂmeÂlihara bandeng dan udang. Panennya hanya enam bulan seÂkali. Kalau penyakit ikan lagi datang, sangat menÂdÂeÂrita. Tidak bisa panen.
Untung ada orang bernama Thabrani di Randu Sanga. PenÂdidikannya S2 dan kini lagi mengejar gelar doktor. Dia mendapat ilmu bahwa di tambak tersebut bisa ditumÂpang sari dengan rumput laut jenis
gracilaria. Dia sendiri, dari warisan orangtuanya, memiliki 15 ha tambak.
Saat itu Thabrani baru terÂkena musibah. Udangnya terÂkena penyakit dan panennya gagal total. Mulailah tergerak unÂtuk memikirkan rumput laut. Dia tebar benih rumput laut. Hidup. Berkembang. Seluruh tambaknya penuh dengan rumput laut.
Hasilnya di luar duÂgaanÂnya: berkat rumput laut itu banÂdengnya lebih cepat besar dan tidak terkena penyakit. DeÂmikian juga udangnya. Dalam waktu yang sama banÂdengnya bisa tumbuh dua kali lipat lebih cepat. Rumput lautÂnya sendiri bisa dipanen tiap dua bulan. Dijemur. Sampai menÂcapai tingkat kekeringan 16 persen. Dijual. Banyak pabÂrik agar-agar membelinya.
Dengan demikian Thabrani dapat uang tiap dua bulan. Tidak lagi hanya punya uang tiap enam bulan. Dengan tamÂbak yang sama hasilnya menÂjadi berlipat.
Dua tahun lamanya Thabrani sendirian. Tetangga-tetangganya tidak ada yang mau mengikuti jejaknya. Padahal Thabrani sudah berusaha merayu mereka. KeÂbiasaan turun-temurun memang sulit diubah.
Tapi Thabrani tipe seorang peÂjuang yang gigih. Dia tidak henti-henti mengajak petani lain meÂngiÂkuti jejaknya. Bahkan, untuk meÂyakinkan mereka, Thabrani menÂjamin akan membeli rumput laut yang mereka hasilkan. Jaminan seperti ini yang kelak di tahun 2012 membuat dia dikenal seÂbaÂgai pengepul rumput laut terbesar.
Setelah ada jaminan itu, baruÂlah satu per satu tetangganya terÂtarik. Kini, lima tahun kemudian, seluruh tambak di Randu Sanga suÂdah menjadi tambak
three in one: bandeng, udang, dan rumput laut. “Bahkan hasil rumput lautnya lebih besar dari hasil bandeng ditambah udang sekalipun,†ujar Tabrani.
Thabrani melangkah lebih jauh. Tiga tahun lalu dia mendirikan seÂkolah menengah kejuruan rumput laut. Dia ingin penduduk desanya meÂnanam rumput laut dengan ilmu pengetahuan. Malam Minggu kemarin itu, saya diajak Thabrani untuk menghadiri pengajian itu. Tapi, sebenarnya sayalah yang harus belajar di situ. Apalagi ThabÂrani tidak keberatan kalau semangatnya itu ditularkan juga ke petani-petani tambak di seluÂruh pantai utara Jawa. Di pusat-pusat nelayan yang miskin.
Thabrani senang sekali melihat warganya kian sejahtera. Dia pun membuat gerobak pengangkut rumÂput laut yang bisa dijalankan di sela-sela tambak. Malam itu dia berbagi gerobak ke banyak peÂtambak di situ gerobak yang dia beri nama DI 99. Bahkan saking seÂÂnangnya, malam itu Thabrani, dalam fungsinya sebagai peÂngumÂpul rumput laut, meÂnguÂmumÂkan keÂpada warganya akan meÂninÂgÂkatÂkan harga rumput laut dari 4.000 per kg menjadi 4.500 per kg.
Tentu itulah pengajian yang paÂling menyenangkan warga Randu Sanga. Ilmu-ilmu rumput laut diÂbeberkan malam itu. Apalagi ada bonus kenaikan harga. Untung ada Ki Dalang Enthus Susmono yang datang bersama saya. Di akhir acara Enthus memberikan tauÂsiah agama. Enthus ternyata saÂngat piawai tidak hanya meÂmainkan wayang tapi juga seÂbaÂgai pendakwah.
Kabar baik rupanya tidak hanya untuk petani rumput laut jenis
graÂcilaria. Petani rumput laut jenis
cottonii pun baiknya juga memÂbaca kabar ini: anak muda dari Lawang, Hamzah, sudah berhasil menÂdirikan pabrik pengolah rumput laut
cottonii menjadi kaÂragenan. Yakni tepung rumput laut yang kegunaannya tidak unÂtuk agar-agar tapi untuk kosmetik, bahan odol, kapsul obat, kue, bakÂso, dan seterusnya.
Kue-kue Jepang yang begitu lemÂbut dan tidak bisa mengeras itu karena menggunakan tepung karagenan. Odol yang mengÂguÂnaÂkan karagenan tidak akan bisa kering meskipun tutupnya terÂbuka. Bakso yang menggunakan teÂpung karagenan memiliki keÂkeÂnyalan yang sempurna.
Selama ini Indonesia hanya bisa mengekspor rumput laut jenis
cottonii ini. Lalu Indonesia meÂngimpor karagenan besar-beÂsaran. Kenyataan inilah yang menggundahgulanakan pikiran Hamzah. Sebagai sarjana teknik mesin yang tidak henti-hentinya berpikir, Hamzah bertekad untuk menciptakan mesin yang bisa meÂngubah rumput laut menjadi kaÂraÂgenan. Pabrik pembuat kaÂraÂgeÂnan ini menggunakan banyak prinsip: kimia, fisika, mekanik, hidraulik, dan elektronik.
Setahun yang lalu, ketika saya meÂnemui Hamzah, dia belum yaÂkin apakah penemuannya akan berÂhasil. Tapi saya terus menÂdoÂrongnya untuk tidak menyerah.
Dia minta waktu satu tahun untuk membuktikannya. Sebenarnya, seÂperti biasa, saya tidak sabar. Tapi saya memaklumi tingkat keÂsulitannya. Apalagi ini mesin yang terkait dengan makanan. Harus memenuhi kriteria dan standar yang lebih tinggi. Dan ini mesin peÂrÂtama yang dilahirkan di IndoÂnesia oleh anak muda Indonesia.
Saya terus berkomunikasi deÂngan Hamzah. Saya terus meÂmoÂnitor perkembangannya. Akhirnya saya dapat kabar baik. Minggu lalu uji coba pabriknya di PaÂsuÂruan dan berhasil. Benar-benar bisa menghasilkan karagenan. Dengan mutu yang tidak kalah deÂngan karagenan impor. Bahkan sedikit lebih baik.
Pabriknya memang kecil. Hanya bisa mengolah rumput laut jenis
cottonii sebanyak 5 ton seÂhari. Tapi 5 ton adalah jumlah yang sudah bisa dipakai meÂnamÂpung hasil rumput laut satu kaÂbuÂpaten. Misalnya kabupaten BuÂluÂkumba di Sulsel.
Rumput laut jenis
cottonii, seÂbaÂgaimana rumput laut di Brebes, memang pilihan yang tepat untuk meningkatkan penÂdapatan para nelayan yang umumnya miskin. Lebih-lebih kaÂlau lagi musim tertentu, keÂtika mereka tidak biÂsa melaut. Bank BRI kini telah membina nelayan rumut laut
cottonii di BuÂlukumba, tapi ya baru sebaÂtas untuk dijual ke pedagang.
Kini, dengan penemuan tekÂnologi oleh putra bangsa kita yang bernama Hamzah itu, rumput laut kian mendapat muaÂra di hilirnya. Pembinaan untuk nelayan rumput laut kini bisa lebih dimassalkan, terÂmaÂsuk oleh BUMN. Inilah senjata untuk mengentas kemiskinan di wilayah nelayan. Di samping mendapat hasil dari ikan, dalam waktu yang bersamaan nelayan juga mendapat uang dari rumput laut.
Sebagaimana yang saya lihat di Bulukumba, para neÂlÂaÂyan di sana mulai berÂseÂmaÂngat menanam rumput laut
cotÂtonii. Memang lebih rumit dibanding rumput laut jenis
gracilaria. Tapi untuk laut-laut tertentu memang hanya cocok untuk rumput laut tertentu. “Di sini, kalau seorang nelayan bisa menanam rumput laut 2.000 bentangan, sudah cuÂkup untuk hidup dan meÂnyeÂkoÂlahkan anak,†ujar seorang nelayan di Bulukumba.
Begitu banyak jalan untuk meningkatkan kehidupan. Pilihan-pilihan mulai banyak tersedia di depan kita. Tinggal kapan kita harus terus kerja, kerja, kerja!
BERITA TERKAIT: