MANUFACTURING HOPE 63

Ada Thabrani di Gracilaria, Ada Hamzah di Cottonii

Oleh: Dahlan Iskan, Menteri BUMN

Senin, 04 Februari 2013, 09:16 WIB
Ada Thabrani di Gracilaria, Ada Hamzah di Cottonii
Dahlan Iskan
rmol news logo Brebes, malam Minggu, jam 22.00. Para petani rumput laut di desa Randu Sanga masih bersila di halaman rumah tokoh masyarakat setempat. Laki-laki dan perempuan. Tua dan muda. Resminya mereka menghadiri acara rutin keagamaan yang disebut “Pengajian Padang Bulan”. Saya pikir akan ada pemilik merk “Padang Bulan” Emha Ainun Najib di situ.

Ternyata nama padang bulan sudah begitu generiknya. Inilah pengajian yang tema pokok bahasannya adalah rumput laut. Bukan ditinjau dari segi agama, tapi bagaimana rumput laut menyejahterakan seluruh masyarakat desa Randu Sanga yang dulunya dikenal sebagai desa nelayan yang miskin.

Ada dua jenis rumput laut. Yang di Brebes ini, sebagaimana juga yang ada di daerah-daerah sebelahnya seperti Cirebon dan Indramayu, rumput lautnya disebut gracilaria. Bentuknya lebih kecil seperti rumput Jepang dan kegunaan utamanya untuk agaragar. Pasarnya sangat luas. Berapa pun akan terserap.

Dulu, para petani tambak di Randu Sanga hanya me­ngan­­dalkan hidupnya dari me­me­lihara bandeng dan udang. Panennya hanya enam bulan se­kali. Kalau penyakit ikan lagi datang, sangat men­d­e­rita. Tidak bisa panen.

Untung ada orang bernama Thabrani di Randu Sanga. Pen­didikannya S2 dan kini lagi mengejar gelar doktor. Dia mendapat ilmu bahwa di tambak tersebut bisa ditum­pang sari dengan rumput laut jenis gracilaria. Dia sendiri, dari warisan orangtuanya, memiliki 15 ha tambak.

Saat itu Thabrani baru ter­kena musibah. Udangnya ter­kena penyakit dan panennya gagal total. Mulailah tergerak un­tuk memikirkan rumput laut. Dia tebar benih rumput laut. Hidup. Berkembang. Seluruh tambaknya penuh dengan rumput laut.

Hasilnya di luar du­gaan­nya: berkat rumput laut itu ban­dengnya lebih cepat besar dan tidak terkena penyakit. De­mikian juga udangnya. Dalam waktu yang sama ban­dengnya bisa tumbuh dua kali lipat lebih cepat. Rumput laut­nya sendiri bisa dipanen tiap dua bulan. Dijemur. Sampai men­capai tingkat kekeringan 16 persen. Dijual. Banyak pab­rik agar-agar membelinya.

Dengan demikian Thabrani dapat uang tiap dua bulan. Tidak lagi hanya punya uang tiap enam bulan. Dengan tam­bak yang sama hasilnya men­jadi berlipat.

Dua tahun lamanya Thabrani sendirian. Tetangga-tetangganya tidak ada yang mau mengikuti jejaknya. Padahal Thabrani sudah berusaha merayu mereka. Ke­biasaan turun-temurun memang sulit diubah.

Tapi Thabrani tipe seorang pe­juang yang gigih. Dia tidak henti-henti mengajak petani lain me­ngi­kuti jejaknya. Bahkan, untuk me­yakinkan mereka, Thabrani  men­jamin akan membeli rumput laut yang mereka hasilkan. Jaminan seperti ini yang kelak di tahun 2012 membuat dia dikenal se­ba­gai pengepul rumput laut terbesar.

Setelah ada jaminan itu, baru­lah satu per satu tetangganya ter­tarik. Kini, lima tahun kemudian, seluruh tambak di Randu Sanga su­dah menjadi tambak three in one: bandeng, udang, dan rumput laut. “Bahkan hasil rumput lautnya lebih besar dari hasil bandeng ditambah udang sekalipun,” ujar Tabrani.

Thabrani melangkah lebih jauh. Tiga tahun lalu dia mendirikan se­kolah menengah kejuruan rumput laut. Dia ingin penduduk desanya me­nanam rumput laut dengan ilmu pengetahuan. Malam Minggu kemarin itu, saya diajak Thabrani untuk menghadiri pengajian itu. Tapi, sebenarnya sayalah yang harus belajar di situ. Apalagi Thab­rani tidak keberatan kalau semangatnya itu ditularkan juga ke petani-petani tambak di selu­ruh pantai utara Jawa. Di pusat-pusat nelayan yang miskin.

Thabrani senang sekali melihat warganya kian sejahtera. Dia pun membuat gerobak pengangkut rum­put laut yang bisa dijalankan di sela-sela tambak. Malam itu dia berbagi gerobak ke banyak pe­tambak di situ gerobak yang dia beri nama DI 99. Bahkan saking se­­nangnya, malam itu Thabrani, dalam fungsinya sebagai pe­ngum­pul rumput laut, me­ngu­mum­kan ke­pada warganya akan me­nin­g­kat­kan harga rumput laut dari 4.000 per kg menjadi 4.500 per kg.

Tentu itulah pengajian yang pa­ling menyenangkan warga Randu Sanga. Ilmu-ilmu rumput laut di­beberkan malam itu. Apalagi ada bonus kenaikan harga. Untung ada Ki Dalang Enthus Susmono yang datang bersama saya. Di akhir acara Enthus memberikan tau­siah agama. Enthus ternyata sa­ngat piawai tidak hanya me­mainkan wayang tapi juga se­ba­gai pendakwah.

Kabar baik rupanya tidak hanya untuk petani rumput laut jenis gra­cilaria. Petani rumput laut jenis cottonii pun baiknya juga mem­baca kabar ini: anak muda dari Lawang, Hamzah, sudah berhasil men­dirikan pabrik pengolah rumput laut cottonii menjadi ka­ragenan. Yakni tepung rumput laut yang kegunaannya tidak un­tuk agar-agar tapi untuk kosmetik, bahan odol, kapsul obat, kue, bak­so, dan seterusnya.

Kue-kue Jepang yang begitu lem­but dan tidak bisa mengeras itu karena menggunakan tepung karagenan. Odol yang meng­gu­na­kan karagenan tidak akan bisa kering meskipun tutupnya ter­buka. Bakso yang menggunakan te­pung karagenan memiliki ke­ke­nyalan yang sempurna.

Selama ini Indonesia hanya bisa mengekspor rumput laut jenis cottonii ini. Lalu Indonesia me­ngimpor karagenan besar-be­saran. Kenyataan inilah yang menggundahgulanakan pikiran Hamzah. Sebagai sarjana teknik mesin yang tidak henti-hentinya berpikir, Hamzah bertekad untuk menciptakan mesin yang bisa me­ngubah rumput laut menjadi ka­ra­genan. Pabrik pembuat ka­ra­ge­nan ini menggunakan banyak prinsip: kimia, fisika, mekanik, hidraulik, dan elektronik.

Setahun yang lalu, ketika saya me­nemui Hamzah, dia belum ya­kin apakah penemuannya akan ber­hasil. Tapi saya terus men­do­rongnya untuk tidak menyerah.

Dia minta waktu satu tahun untuk membuktikannya. Sebenarnya, se­perti biasa, saya tidak sabar. Tapi saya memaklumi tingkat ke­sulitannya. Apalagi ini mesin yang terkait dengan makanan. Harus memenuhi kriteria dan standar  yang lebih tinggi. Dan ini mesin pe­r­tama yang dilahirkan di Indo­nesia oleh anak muda Indonesia.

Saya terus berkomunikasi de­ngan Hamzah. Saya terus me­mo­nitor perkembangannya. Akhirnya saya dapat kabar baik. Minggu lalu uji coba pabriknya di Pa­su­ruan dan berhasil. Benar-benar bisa menghasilkan karagenan. Dengan mutu yang tidak kalah de­ngan karagenan impor. Bahkan sedikit lebih baik.

Pabriknya memang kecil. Hanya bisa mengolah rumput laut jenis cottonii sebanyak 5 ton se­hari. Tapi 5 ton adalah jumlah yang sudah bisa dipakai me­nam­pung hasil rumput laut satu ka­bu­paten. Misalnya kabupaten Bu­lu­kumba di Sulsel.

Rumput laut jenis cottonii, se­ba­gaimana rumput laut di Brebes, memang pilihan yang tepat untuk meningkatkan pen­dapatan para nelayan yang umumnya miskin. Lebih-lebih ka­lau lagi musim tertentu, ke­tika mereka tidak bi­sa melaut. Bank BRI kini telah membina nelayan rumut laut cottonii di Bu­lukumba, tapi ya baru seba­tas untuk dijual ke pedagang.

Kini, dengan penemuan tek­nologi oleh putra bangsa kita yang bernama Hamzah itu, rumput laut kian mendapat mua­ra di hilirnya. Pembinaan untuk nelayan rumput laut kini bisa lebih dimassalkan, ter­ma­suk oleh BUMN. Inilah senjata untuk mengentas kemiskinan di wilayah nelayan. Di samping mendapat hasil dari ikan, dalam waktu yang bersamaan nelayan juga mendapat uang dari rumput laut.

Sebagaimana yang saya lihat di Bulukumba, para ne­l­a­yan di sana mulai ber­se­ma­ngat menanam rumput laut cot­tonii. Memang lebih rumit dibanding rumput laut jenis gracilaria. Tapi untuk laut-laut tertentu memang hanya cocok untuk rumput laut tertentu. “Di sini, kalau seorang nelayan bisa menanam rumput laut 2.000 bentangan, sudah cu­kup untuk hidup dan me­nye­ko­lahkan anak,” ujar seorang nelayan di Bulukumba.

Begitu banyak jalan untuk meningkatkan kehidupan. Pilihan-pilihan mulai banyak tersedia di depan kita. Tinggal kapan kita harus terus kerja, kerja, kerja!

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA