Massa Bayaran Mulai Hiasi Pemilukada Sumsel

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/dede-zaki-mubarok-1'>DEDE ZAKI MUBAROK</a>
LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK
  • Selasa, 29 Januari 2013, 07:16 WIB
Massa Bayaran Mulai Hiasi Pemilukada Sumsel
ilustrasi/ist
rmol news logo . Situasi politik jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) Sumsel mulai memanas. Massa bayaran pun dikerahkan untuk menjatuhkan salah satu kandidat gubernur.

Hal ini terungkap saat aksi unjuk rasa puluhan  masyarakat  yang tergabung dalam Komando Masyarakat dan Pemuda Sumsel (Kompass) di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin kemarin (28/1) yang menuntut Gubernur Sumsel Alex Noerdin diperiksa KPK atas kasus korupsi.

Ratusan massa ini ternyata bukan warga Sumsel sesuai nama organisasinya, melainkan massa bayaran yang didatangkan dari Jakarta sendiri. Ironisnya, salah satu orator salah menyebutkan jabatan H Alex Noerdin sebelum menjabat Gubernur Sumsel. Orator itu malah menyebut H Alex Noerdin mantan Bupati Banyuasin. Padahal yang sebenarnya Musi Banyuasin.

Salah seorang peserta aksi, Sulaiman warga Kampung Melayu mengaku, dirinya tidak tahu isu yang disuarakan. Sebab, dirinya hanya diajak teman-temannya untuk ikut berdemo di KPK.

"Yang penting ikut aja, mau soal apa terserah," ungkapnya.

Dia mengaku, dijanjikan uang sebesar Rp100 ribu jika terlibat dalam demo itu. Namun, uang bayaran itu akan diberikan usai berdemo dan sekembali ke Kampung Melayu.

"Lumayan dapat cepek, siapa yang mau ngasih jaman gini," terangnya.

Pernyataan yang sama juga diungkapkan Arina, satu kampung dengan Sulaiman. Ibu rumah tangga ini juga mengaku diajak berdemo. Meski bukan warga Sumsel, dirinya mengambil sikap masa bodoh. Yang penting terima bayaran sesuai perjanjian.

"Lumayanlah, daripada nganggur di rumah," kata dia. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA