"Mulai semalam saya sudah menyatakan mundur. Itu pilihan terbaik buat saya dan menyakitkan juga karena sudah dua tahun saya bangun partai ini di Jawa Barat," ujarnya kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Selasa, 22/1).
Dia mundur karena tidak tahu apalagi yang akan 'dijual' kepada masyarakat. Jargon perubahan yang selama ini digaungkan Nasdem hanya isapan jempol belaka.
"Perubahan bagaimana? Apa dari yang muda ke yang tua? Partai ini kelihatannya sudah bukan kesantunan lagi yang dibawa. Partai ini sudah melebihi brutal," ungkapnya.
Keputusannya ini bukan karena mengikuti langkah Hary Tanoe, yang juga resmi hengkang sejak kemarin.
"Saya sebenarnya sudah jauh-jauh hari sebelumnya menerima agitasi, teror. Sejak (Nasdem) lolos (sebagai peserta Pemilu) semakin kencang teror supaya saya mendukung Surya Paloh jadi ketua umum," jelasnya.
"Tapi kalau saya dibilang ikut Pak Hary Tanoe, boleh. Tapi saya secara pribadi, hati saya sudah tidak nyaman, ditambah teror secara fisik. Ini zaman mundur, masak kita begitu terus," tandasnya.
Dia mengakui banyak yang menyesalkan keputusan mundur tersebut. Hal itu diakui sendiri karena sudah bersama-sama selama dua tahun ini membangun Nasdem di Jawa Barat. Tapi, meski pahit, dia yakin keputusannya itu yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: