Pernyataan Ketua Umum PBNU bahwa presiden mendatang sebaiknya dari berlatar belakang militer atau kalaupun dari sipil harus berjiwa tentara disebut ngaco. Karena soal sikap ketegasan memimpin tidak terkait dengan latar belakang seseorang.
"Dia nggak tahu kalau sipil berkuasa terkadang lebih tegas dari militer. Sukarno itu kurang tegas apa lagi," jelas Direktur Eksekutif Politik Soekarno Hatta (IEPSH) Hatta Taliwang kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (14/1).
Begitu juga saat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi presiden. Pada Maret 2000, mantan Ketua Umum PBNU itu dengan tegas meminta Jenderal (Purn) Wiranto mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam karena dugaan keterlibatan dalam pelanggaran HAM Timtim.
"Bahkan Wiranto yang dari tentara dia pecat. Bahkan dari luar negeri lagi (pemecatannya)," sambung Hatta.
Contoh teranyar, masih kata Hatta, adalah sosok Jenderal SBY dan Jusuf Kalla, saat keduanya sama-sama memimpin negeri ini pada periode 2004-2009.
"Siapa yang lebih tegas antara JK dan SBY. Kan lebih tegas JK. Walaupun SBY dari militer, dia hanya klemer-kelemer aja itu. Jadi (latar belakang) itu bukan ukuran. Tergantung nurani. Kalau nuraninya baik, bersih, ingin memajukan bangsa, dia akan jadi pemberani," tegas Hatta, bekas politisi PAN yang pernah duduk di DPR RI ini. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: