Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto tidak terlibat dalam menjatuhkan Presiden Soeharto pada tahun 1998 lalu. Karena itu, dia tidak memahami bagaimana peta gerakan aktivis 1998.
Demikian disampaikan Ubedillah Badrun, jurubicara Perhimpunan '98 kepada Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 29/12) menanggapi pernyataan Bima.
Dalam diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM) kemarin, Bima heran kenapa mantan Danjen Kopassus Letjen (purn) Prabowo Subianto selalu berada di urut nomor satu dalam setiap survei calon presiden.
"Apa kita lupa kenapa dia berhenti dari militer, apa karena dia punya sikap tegas. Di bagian mana tegasnya? Saya tidak habis pikir kawan-kawan 1998 yang menentang militerisme, dictatorship, jadi ganti kelamin, jadi permisif, dan berdamai dengan hal itu," tutur Bima.
Menurut Badrun, melanjutkan keterangannya, pernyataan Bima Arya tersebut terlalu dangkal dan tidak berbasis data. Menurutnya, tidak tepat logika Bima yang melakukan generalisasi atas sikap dan pilihan aktivis 98.
"Sebab aktivis 98 itu banyak, pentolanya juga banyak. Karena kawan-kawan '98 bergerak pada waktu itu dengan pola kepemimpinan presidium," ungkapnya.
Karena itu, ada dua kekeliruan mendasar dari pernyataan mantan pengamat politik tersebut. Pertama, kekeliruan dalam melakukan generalisasi terhadap aktivis 98. Kedua, kekeliruan melakukan penghakiman terhadap pilihan politik aktivis 98.
"Saya kira kekeliruan logika Arya ini bisa disebabkan karena Arya tidak memahami peta gerakan mahasiswa 98 dan memang Arya bukan bagian dari gerakan 98 yang menjatuhkan rezim diktator Soeharto," imbuhnya.
"Sebab kedua karena kepentingan subyektif (Bima) untuk menghadang laju dukungan publik terhadap Prabowo," tandas Badrun. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: