Demikian disampaikan tokoh muda dan aktivis pergerakan Moh Jumhur Hidayat saat menyampaikan Pidato Kebudayaan bertajuk "Membangun Karakter Indonesia Berbasis Sosio Kultural" di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu malam (23/12).
Jumhur mengatakan, penguatan karakter Indonesia tidak boleh terbentuk karena meniru-niru secara absolut dari akar sekaligus produk budaya asing. Sebab, karakter Indonesia harus tetap menunjukkan nila-nilai yang hidup dan ditumbuhkan berdasarkan pengalaman asli budaya bangsa sendiri, yang sejarahnya nyata-nyata mengandung keunggulan di berbagai bidang itu.
"Marilah kita amati secermat-cermatnya, bahwa modernisasi yang terus berlangsung dapat menjadikan jiwa kita gersang jika sekadar dikembangkan melalui budaya rasionalitas Barat yang kaku, sedangkan rasionalitas itu sebenarnya bisa dibumikan dengan budaya setempat untuk menghasilkan ‘output’ lebih bagus lagi bagi kemajuan bangsa," ujar Jumhur, sambil mengatakan upaya bangsa Indonesia belajar dari Barat bukan untuk meninggalkan budaya yang ada apalagi mengkhianatinya, tetapi justru memanfaatkannya untuk mempererat semangat dan meninggikan unsur-unsur kebudayaan di tanah air secara berdayaguna.
Jumhur pun menyatakan ketaksetujuannya membangun karakter Indonesia yang menyerap begitu banyak kebudayaan asing namun mengabaikan keluhuran budaya suku-suku bangsa Indonesia. Dan sudah seharusnya semua elemen menggali terlebih dahulu keunggulan budaya dari suku-suku bangsa Indonesia dan kemudian menjadikan kekuatan gabungannya yang siap menyerap keunggulan budaya dari perlintasan budaya luar sehingga akan mewujudkan lebih hebat karakter Indonesia yang sesungguhnya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: