Kalau Raja Dangdut Rhoma Irama misalnya disandingkan dengan Abu Rizal Bakrie (yang sekarang lagi terkenal dengan akronim ARB), Jusuf Kalla, Mega, atau Prabowo Subianto, kemungkinan terpilihnya Rhoma Irama untuk jadi presiden sebenarnya peluangnya adalah sama besar. Ini karena orang Indonesia umumnya permisif.
Dan, obrolan-obrolan seperti ini sekarang lagi beredar di warung-warung kopi, di lapak-lapak pasar, stasiun kereta, terminal, dan tempat-tempat keramaian publik dari golongan rakyat biasa.
Kenapa Rhoma Irama mau jadi capres? Kemungkinannya ada banyak. Setidaknya, pertama, Rhoma Irama sebenarnya sangat signifikan untuk diposisikan sebagai cawapres untuk mendampingi para capres muka lama alias para capres kategori 4 L (Lu Lagi Lu Lagi) yang sudah tidak laku dan tidak memiliki track record yang bisa dibanggakan. Rhoma Irama bisa mendongkrak suara capres karena popularitas keartisannya sangat tinggi.
Kedua, bersedianya Rhoma Irama jadi capres juga sekaligus menggambarkan bahwa di dalam mayoritas masyarakat Indonesia yang permisif ini sesungguhnya sedang terjadi proses frustrasi sosial, karena ternyata para calon presiden yang dijagokan dan berasal dari partai politik tidak ada yang acceptable. Kecuali tentu yang mengatakan mereka acceptable adalah lembaga survei yang mendukung.
Ketiga, demokrasi tidak menjamin akan hadirnya pemimpin yang berkwalitas, bahkan tidak otomatis berkorelasi dengan kesejahteraan mayoritas rakyat.
Orang Indonesia itu umumnya permisif, sehingga katanya pemimpin yang muncul sering by accidents (secara kebetulan atau akibat kecelakaan), namun meski demikian gampang saja diterima, karena orang Indonesia umumnya suka membolehkan, suka mengizinkan. Maka banyak lahir Accidental Hero.
Dustin Hoffman pernah memerankan satu film drama komedi yang dia bintangi bersama Andy Garcia dan Geena Davis, judul dan pesan cerita film ini agak kontekstual dengan keadaan sekarang, The Accidental Hero. Film kocak ini bercerita tentang seseorang yang mendadak jadi pahlawan yang dia sendiri sebenarnya tidak tahu penyebab dirinya jadi "pahlawan", melainkan hanya gara-gara sebuah peristiwa yang secara kebetulan dialaminya.
Di era sekarang dan di dalam sejarah pada umumnya para accidental hero suka bermunculan dimana-mana. Ada banyak koruptor yang suka meneriakan pemberantasan korupsi, ada penindas demokrasi yang suka berbicara tentang kebebasan dan persamaan hak. Reformasi ternyata telah menyebabkan banyak tokoh "bermasalah" mendadak muncul jadi "pahlawan".
Bulan depan 2012 akan berakhir, berganti 2013 yang oleh banyak kalangan disebut sebagai tahun agresifitas politik karena Pilpres bakal berlangsung di 2014. Seperti lakon sebuah film, bangsa ini terlalu penuh dengan figuran, sementara tokoh utamanya tidak ada.
Sehingga para figuran saling berebut ingin jadi tokoh utama. Semua ingin mendapat peran, ingin didengar dan dianggap benar, sehingga terjadilah over acting. Semua ingin disebut dan dianggap pahlawan, sehingga reformasi menghasilkan accidental hero. Capres accidental. [***]
Tulisan ini dimuat di Harian Rakyat Merdeka. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail [email protected].
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: