Masyarakat Butuh Keamanan Bertransaki di Perbankan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Kamis, 22 November 2012, 08:32 WIB
Masyarakat Butuh Keamanan Bertransaki di Perbankan
ilustrasi
rmol news logo Perang saat ini terkadang sudah tidak pakai senjata. Kasus serangan cyber ke negara Israel menjadi contoh teraktual. Masyarakat Indonesia juga butuh keamanan bertransaksi di perbankan.

Adalah kenyataan bahwa bank-bank belum melakukan perlindungan maksimal terhadap informasi penting yang mereka produksi setiap hari. Surat-surat elektronik, laporan transaksi keuangan, data nasabah setiap bank, dan rencana-rencana strategis pada hampir seluruh departemen pemerintahan yang terdigitalisasi, mudah saja diakses lewat jaringan internet. Indonesia kemudian menjadi sangat terbuka pada setiap aspeknya. Dan semuanya bermula dari ketiadaan perlindungan yang baik terhadap informasi.

"Peperangan saat ini tidak hanya menggunakan senjata, tapi dengan melumpuhkan jaringan komputer, sistem komunikasi dimatikan. Kita bisa berbuat apa. Ini berbahaya. Kalau kita tidak menghadapinya dengan teknologi, hal itu berbahaya bagi warga dan bangsa. Kita harus sadar dengan ancaman kejahatan cyber ini. Semoga dengan mempersiapkan diri, kita akan lepas dari ancaman tersebut," jelas Kepala Lembaga Sandi Negara Djoko Setiadi kemarin.

Mengenai keamanan di perbankan, Djoko juga mengingatkan perlunya meningkatkan pengamanan dari serangan yang tidak diinginkan. “Mengenai perbankan, tentu Lemsaneg akan siap membantu. Kita siap membantu jika mereka datang minta bantuan. Lemsaneg siap membantu apabila diperlukan. Bahkan kami sudah siap membantu karena kami sudah menyiapkan teknologi kriptografi untuk mengamankan data-data perbankan di Indonesia, terutama menghadapi ancaman cyber,” imbuh doktor lulusan UGM ini.

Teknologi memberikan kecepatan, kemudahan, kenyamanan, namun sisi keamanan perlu ditingkatkan. Ketika ada kejahatan menyerang, tanpa disadari akan membahayakan. Perlu adanya kesadaran masyarakat. Apakah kemudian lisensi pengamanan dari luar negeri cukup bisa melindungi masyarakat Indonesia?

"Kita tidak boleh diam kita harus melakukan antisipasi dan persiapan menghadapinya. Kita perlu waspada. Kita siap bantu setiap warga negara, bank termasuk aset yang perlu kita amankan. Lemsaneg siap membantu dan siap melakukan kerjasama dengan pihak perbankan di Indonesia. Dan ini sebaiknya menjadi prioritas dari kalangan perbankan,” jelasnya.

Dia mencontohkan lembaga yang belum lama dibantu beberapa waktu yang lalu adalah institusi Kepolisian. Dengan metode penyimpanan soal ujian yang transparan, penyaringan nilai yang tertinggi, nama-nama diterima, dilakukan dengan proses yang transparan dan rahasia dengan kriptografi.

“Penerimaan bintara, perwira, akpol, yang memproses Lemsaneg, dan menghadirkan seluruh elemen masyarakat, LSM, pejabat Polri, keluarga, Kompolnas, kita laksanakan dengan transparan, humanis, akuntabel. Ketika kita umumkan hasilnya, apakah ada yang keberatan? Tidak ada yang keberatan, dan semua merasa puas,” tutupnya. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA