Pujian terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dari lembaga dan pengamat internasional terus bergulir. Yang terbaru, sanjungan datang dari peraih nobel bidang ekonomi tahun 2011, Thomas J Sargent.
Tapi diingatkan, berbagai pujian itu jangan sampai membuat pemerintah Indonesia terlena.
"Peryataan Sargent bahwa ekonomi Indonesia lebih baik dari Amerika karena mampu tumbuh sekitar 6 persen, tidak perlu ditelan bulat-bulat dan membuat kita lengah," ujar ekonom Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Jumat, 28/9).
Dahnil mengakui, fakta kinerja makro ekonomi kita relatif lebih baik dibandingkan dengan negara lain.
Tetapi perlu dipahami bahwa fakta itu adalah helicopter view alias pandangan dari kejauhan dan umum yang memang menunjukkan kinerja makro kita relatif lebih baik.
Karena itulah, Dahnil mengingatkan, pemerintah tak tidak boleh lengah dengan fakta yang jauh lebih penting untuk diselesaikan yakni kinerja ekonomi riil kita yang bermasalah terutama permasalahan daya saing yang terus melorot akibat buruknya kinerja birokrasi yang korup, infrastruktur yang buruk dan ketimpangan kesejahteraan yang semakin melebar.
"Lihat saja gini ratio (rasio ketimpangan pendapatan) kita terus meningkat," tegas Dahnil.
"Mari kita jadikan puja-puji dunia itu sebagai langkah antisipastif dan perbaikan masalah sesungguhnya di ekonomi kita yakni daya saing kinerja ekonomi riil," demikian pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtaya, Serang, Banten ini.
Rabu lalu, Sargent berceramah di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Jakarta. Dalam ceramahnya, Sargen mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang dua tahun terakhir lebih baik dibandingkan AS. Dengan pertumbuhan ekonomi enam persen per tahun, ekonomi Indonesia tumbuh jauh meninggalkan AS yang hanya 1-2 persen per tahun. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: