Sebagai pribadi dan pimpinan sebuah partai politik, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (PS) berhak penuh memilih siapa yang dianggapnya tepat sebagai cawapresnya pada 2014 mendatang. Termasuk apabila Puan Maharani, Ketua Fraksi PDIP yang juga cucu serta anak mantan Presiden RI.
Namun demikian, Prabowo tentunya juga perlu mempertimbangkan kondisi objektif yang sedang berkembang dalam perpolitikan Indonesia serta arah kehendak rakyat Indonesia. Khususnya, bagaimana pandangan rakyat yang semakin kritis dan tidak lagi memercayai parpol sebagai representasi asiprasi mereka.
"Juga PS perlu memperhitungkan kapasitas, rekam jejak dan pengalaman PM sebagai politisi dan pemimpin. Sebab seorang wapres, secara konstitusional, bisa saja mengemban tugas Presiden dalam hal-hal tertentu," ujar pengamat politik AS Hikam (Sabtu, 22/9).
Puan, di mata Hikam, adalah seorang tokoh rising star dan berpotensi menjadi pemimpin serta negarawati di Republik ini. Namun ia masih perlu proses dan pengalaman yang cukup dan tidak terkesan "dikarbit," kebiasaan di Indonesia yang buruk dalam rekrutmen pemimpin.
"PS bisa saja mengabaikan semua pertimbangan ini. Namun resikonya juga dia bisa kehilangan kans yang besar sebagai Presiden RI hanya karena terlalu tergoda oleh eforia dan tekanan koalisi partai!" demikian Hikam.
Sebelumnya diberitakan, Prabowo Subianto memberi sinyal partainya bakal melanjutkan 'kemesraan' dengan PDIP di Pilgub DKI dalam Pilpres 2014.
Prabowo mengatakan, sangat terbuka bagi dirinya untuk berduet bersama putri Megawati, Puan Maharani sebagai pasangan capres dan cawapres pada Pilpres mendatang. "Ya bisa saja itu," singkat Prabowo, di DPP Partai Gerindra, Jalan Harsono RM No. 54 Ragunan Jakarta Selatan, Kamis (20/9). [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: