Demikian diutarakan analis politik Point Indonesia, Karel Susetyo kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat tadi, Senin (17/9).
Ketidakkonsistenan Jokowi lainnya, menurut dia, adalah upaya Jokowi dalam mengatasi kemacetan. Di satu sisi dia berpandangan anti jalan non tol Antasari, tapi di sisi lain mau membangun jalan
triple decker.
"Konsep pembangunan Jokowi memang populis tapi tidak realistis.
Jokowi, menurut Karel, tidak mengandaikan Jakarta sebagai provinsi di sebuah negara kesatuan, dimana didalamnya perlu ada koordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi tetangga dalam paradigma membangun Jakarta. Dia menganggap Jakarta seolah-olah dalam frame negara federal, yang bisa melakukan pembangunan semaunya tanpa mengindahkan kehadiran pemerintah pusat dan daerah penyangga ibukota.
"Apa yang bisa diharapkan dari cagub yang tidak konsisten?" katanya.
Selebihnya, lanjut Karel, dari dua kali debat di TV beberapa hari lalu, Jokowi hanya bisa mengaduk emosi dan sentimen pemilih ketimbang memaparkan konsep Jakarta yang memiliki kompleksitas jauh dibandingkan kota Solo.
[dem]
BERITA TERKAIT: