Di antara kejanggalan itu, sebagaimana disampaikan sementara pengamat dan politisi di Senayan, adalah terkait dengan tertembaknya Bripda Suherman. Disebutkan bahwa Suherman tertembak hingga tewas di bagian perut.
Tentu saja hal ini janggal. Sebab dalam standar operasi prosedur, Densus 88 yang mau menggerebek teroris harus menggunakan rompi anti peluru.
Bagaimana tanggapan Kaplori Jenderal Timur Pradopo terkait hal ini?
"Semua SOP dilakukan, termasuk memakai
body protector," kata Timur Pradopo sebelum mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di gedung Nusantara II DPR, komplek parlemen, Senayan, Jakarta (Senin, 3/9).
Terkait dengan berbagai desakan beberapa pihak yang meminta Timur untuk mencopot Kapolda Jawa Tengah dan Kapolresta Solo, Timur menjawabnya diplomatis.
"Semuanya bagian dari proses, ini proses dinamika di lapangan," demikian Timur.
[ysa]
BERITA TERKAIT: