Di Malaysia, Anak-anak TKI Tetap Ceria Peringati Hari Anak Sampai Tengah Malam

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Jumat, 31 Agustus 2012, 14:11 WIB
Di Malaysia, Anak-anak TKI Tetap Ceria Peringati Hari Anak Sampai Tengah Malam
ilustrasi
rmol news logo Bersamaan dengan peringatan Hari Anak Nasional pada Rabu (29/8) di Taman Mini Indonesia  Indonesia, Jakarta, yang dihadiri Presiden SBY, jauh di tengah kebun kelapa sawit di Sabah, Malaysia, ribuan anak-anak Indonesia mengadakan upacara Kemerdekaan RI dan Peringatan Hari Anak.

Upacara Kemerdekaan RI dan Peringatan Hari Anak anak-anak TKI yang dibina Yayasan Peduli Pendidikan Anak Indonesia pimpinan Firdaus asal Nusa Tenggara Timur ini berlasungung sangat meriah.

Paskibra yang terdiri dari anak-anak warga belajar paket A, B dan C karena anak Indonesia tidak mampu membayar sekolah formal, berpakaian putih-putih dan atribut persis upacara di Istana Merdeka. Anak-anak PAUD dan warga belajar memakai seragam polisi dan pakaian sekolah memenuhi lapangan kantor yayasan yang disiapkan perusahaan FELDA, milik kerajaan Malaysia.

Inspektur upacara dengan gagahnya memimpin upacara. Pengibaran bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan di tengah-tengah kebun kelapa sawit membuat bulu roma merinding.

"Sebelum yayasan ini hadir, anak-anak buta huruf dan ikut bekerja dengan orang tuanya. Jika sudah umur 12 tahun dan ada yang melamar, anak-anak dinikahkan," ujar Ketua Satuan Tugas Pengadilan Anak M. Ihsan yang hadir dalam acara tersebut.

Ribuan anak-anak Indonesia yang lahir dan besar di tengah kebun sawit, tidak penah menginjakkan kakinya di Indonesia. Ketika ditanya siapa anak Indonesia, tidak ada yang angkat tangan. Lantas ditanya, kamu dari mana, jawabannya 'Saya dari Sulawesi.

"95 persen anak-anak di kebun sawit Felda dari Sulsel. Lantas gurunya menjelaskan, Sulawesi itu adalah nama daerah di Indonesia," sambung Ihsan.

Setelah ada yayasan, anak-anak bisa baca tulis, ujian paket pendidikan non formal dititipkan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan karena Kemendiknas menolak permohonan yayasan untuk ikut ujian nasional, apalagi mendapat pembinaan dan dukungan dari Kemendiknas dan Kemenlu.

Malam hari anak-anak menampilkan drama detik-detik proklamasi dan lagu kebangsaan serta kesenian daerah. Pejabat kerajaan terharu dan dalam sambutannya menyampaikan, Indonesia dapat kemerdekaan dengan mengorbankan nyawa. "Sedangkan Malaysia dapat kemerdekaan tanggal 31 Agustus 55 tahun yang lalu hanya dengan tanda tangan," katanya mengutip sambutan pejabat tersebut.

Sampai larut malam berbagai kreasi dan kebolehan anak-anak di tampilkan. Sambutan

dari Indonesia disampaikan oleh delegasi Satgas Perlindungan Anak  diberikan oleh Direktur Kesejahteraan Sosial Anak Kemensos bapak Nahar dan Sekretaris KPAI, yaitu Ihsan sendiri.

Ketika bicara langsung dengan orang tua anak-anak, mereka menceritakan bahwa banyak dari mereka yang buta huruf, bahkan sering diperdaya oleh calo tenaga kerja dari Indonesia dan Malaysia dengan cara menjual mereka ke beberapa perusahaan sawit, sehingga TKI terbelit hutang seumur hidup akibat perbuatan calo, banyak yang terpaksa lari ke hutan dan ditahan oleh kepolisian Malaysia karena pasport mereka disembunyikan.

"Situasi ini mulai membaik khususnya di Felda karena semua pekerja harus legal dan Yayasan membantu pemutihan pembuatan parport TKI jumlahnya ribuan termasuk anak-anak, sehingga mereka tidak perlu lari kehutan jika ada razia oleh polisi kerajaan," ungkapnya.

Sampai pukul 24.00 waktu Sabah, anak-anak dan orang tua masih tumpah ruang di lapangan tempat acara. Tidak ada yang tertidur. [zul]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA