Rumah itu berukuran kurang lebih 5 X 10 meter. Dindingnya, terbuat dari bambu dan papan. Sementara atapnya, pada bagian depan terbuat dari daun nipah; dan bagian tengah dari genteng.
Di dalam rumah yang tak berlantai semen itu, terdapat dua kamar. Disitu berdiri sebuah lemari; sedangkan berjejer di sebelahnya televisi dan rak piring. Sementara di dapur, selain tempat memasak dan juga terdapat sebuah sumur kecil, yang bila akan mengambil air harus menggunakan timba memakai seuntai tali.
Sumur itu sendiri tidak pakai dinding. Untuk mencegah terjadi sesuatu yang tak diinginkan, diletakkan dua bilah papan di mulut sumur tersebut.
Sementara untuk tempat mandi dan cuci piring serta pakaian, berada di sebelah pintu dapur. Kamar mandi itu hanya ditutupi dengan karung atau goni setinggi bahu. Sementara toilet, tidak terdapat di rumah tersebut. Kalau mau buang air besar, penghuni rumah pergi ke semak-semak tak jauh dari rumah tersebut.
Di rumah itulah keluarga Abdul Rosyid dan istrinya Nurbainah bersama tiga anaknya, Maharani kelas 1 SMP, Fahrul Rozi kelas 2 SD, dan yang paling kecil Muhammad Ridho, tinggal. Mereka adalah warga Pulau Tunda, Desa Warga Sari, Kecematan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. Rumah itu memang mereka yang mendirikan. Tapi untuk tanahnya, mereka masih menyewa.
Pada Jumat malam lalu itu (24/8), saya (wartawan Rakyat Merdeka Online) bersama anak dan istri serta pendongeng dari Klub Pendongeng Kampung Anak untuk Kreativitas (Kanvas), Kak Dwi, bersama seorang putri dan temannya laki-laki, menginap.
Saat itu, kami mengikuti acara "One Day 4 Children Tunda Island," yang digelar Gerakan Para Pendukung untuk Kemanusiaan (GePPuK). Salah satu bagian dari rangakaian acara tersebut adalah menginap di rumah warga, yang telah ditentukan panitia.
Malam itu, sang kepala rumah tangga, Abdul Rasyid, sedang melaut, mencari ikan, selama sepekan. Melaut merupakan pekerjaan mayoritas penduduk pulau seluas kurang lebih 300 hektar tersebut. Sementara Mbak Mbay, panggilan istrinya tidak punya pekerjaan tetap.
"Ya (saya) paling hanya cuci pakaian tetangga, cari kayu bakar, atau ngumpulin botol aqua di tepi-tepi pantai," jelasnya dalam perbincangan dengan kami saat makan malam. Malam itu, kami disuguhi sayur asam dan ikan tongkol goreng.
Meski memang, tidak semua penduduk pulau tersebut memiliki rumah seperti rumah keluarga Rasyid. Kami juga dengan mudah menemukan rumah-rumah yang mewah berdinding tembok dan berkeramik. Tapi, rata-rata, rumah itu dimiliki oleh keluarga, yang istri atau anaknya, bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia.
"Saya juga pernah kerja di Riyadh (Arab Saudi). Tapi baru empat bulan, disuruh pulang sama majikan," jelas Mbak Mbay, tanpa merinci penyebab kenapa dia diminta pulang kembali ke Indonesia.
Tapi sayangnya, warga Pulau Tunda yang bekerja sebagai TKI, kehidupannya tidak berubah, kecuali bentuk fisik bangunan rumah. Karena semua hasil pencarian di rumah orang, hanya digunakan untuk bangun rumah. "Setelah (bangun rumah) ya kembali kosong (nggak punya uang)," kata tokoh masyarakat, Saifuddin, yang istrinya juga pernah bekerja di luar negeri.
Selain melaut, ada beberapa yang bercocok tanam palawija. Tapi, pekerjaan jenis yang satu ini hanya dilakukan mereka yang sudah sepuh, yang tak sanggup lagi melaut. Selain tergantung guyuran hujan, warga tak ingin bercocok tanam, karena tak ingin menunggu hasilnya berlama-lama.
Di samping itu, untuk wisata, masyarakat belum meliriknya. Memang, sampai saat ini, infrastruktur untuk menarik wisatawan terbilang belum memadai. Padahal keindahan alam bawah lautnya masih sangat alami.
Disini, listrik hanya nyala pada malam hari. Setiap rumah dipungut biaya Rp 3000 per malam. Karena sumber listri berasal mesin diesel yang dimiliki seseorang warga. Sebenarnya, penduduk setempat pernah mendapat bantuan solar panel dari pemerintah. Namun karena alat yang diberi merupakan spesifikasi terendah, mulai dari aki hingga panelnya, alat itu tak bertahan lama. Warga pun tak mau untuk mengganti dengan membeli yang baru dengan alasan mahal.
Sementara untuk pendidikan, hanya tingkat sekolah SD dan SMP yang tersedia di pulau tersebut. Untuk SD, siswa tidak dipungut biaya; sementara SMP dikenakan biaya Rp. 5000 per bulan. Dan bila ingin melanjutkan ke jenjang SMA, anak-anak Pulau Tunda harus nyebrang ke sekitar Serang.
Untuk mencapai pulau tersebut, satu-satunya jalan adalah lewat pelabuhan Karang Antu, Serang, Banten dengan menumpang Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunda Ekspress yang melayani masyarakat setempat atau masyarakat lain yang hendak ke pulau tersebut setiap hari Senin, Rabu dan Sabtu. Dan itu pun hanya satu kali perjalanan dalam tiap hari keberangkatan. Lama perjalanan selama 2 jam.
Soal kenapa pulau itu dinamakan pulau tunda, masyakat setempat sepertinya tak satu kata. Kang Jarot, sapaan Saifuddin menjelaskan, hal itu berasal dari kebiasaan Sultan Banten, yang tempo dulu istirahat atau tinggal di pulau itu apa bila terjadi badai. Istirahat itu artinya nunda atau tunda. Tapi, kapten kapal yang membawa kami dari Pelabuhan Karang Antu mengungkapkan, penamaan pulau tunda berasal dari kebijakan Belanda yang menyimpan hasil barang jajahan di pulau tersebut. Meski memang, keduanya juga tak bisa memasikan apa yang mereka kemukakan itu adalah yang benar. Karena sumbernya juga hanya katanya, katanya.
Karena kondisi rumah yang tak memungkinkan, malam itu kami bertiga, tidur di luar rumah tersebut. Di teras, terdapat sejenis tempat duduk dari bambu, yang bisa digunakan untuk merebahkan badan, meski saling berdesakan.
Sebenarnya, tidak hanya kami. Para pendongeng dan peserta lain juga menginap di rumah-rumah yang tak jauh beda dengan yang kami tinggali. Hal ini memang sudah direncanakan sejak awal.
"Para peserta itu kita ajak mensyukuri apa yang diterima di kota. Ternyata, di sisi lain, lima jam dari Jakarta, ada orang yang mungkin lebih memperihatinkan dari kita. Dan agar donatur tahu, yang diberikan itu tidak salah sasaran," ujar Koordinator Acara Ade M. Syafaat soal alasan kenapa ada acara menginap di rumah warga.
Karena itu, sebelum pulang, semua peserta, sambil pamit kepada pemilik rumah, memberikan komoditas kebutuhan pokok, yaitu beras, minyak goreng, dan gula, yang sudah dipaket oleh panitia dan sejumlah uang. Pemberian sembako dan uang tersebut sudah direncanakan dan diambil dari para peserta juga. Tapi, tak sedikit juga peserta yang memberikan bantuan tambahan kepada induk semang tersebut, sebagaimana diimbau oleh Kak Ade, sapaan pendongeng dari Dongeng Ceria Management (DCM) tersebut. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: