Mewaspadai Penyakit Rohani

Oleh Hatta Rajasa

Senin, 13 Agustus 2012, 04:54 WIB
Mewaspadai Penyakit Rohani
KESEHATAN adalah anugerah Allah paling berharga yang mesti disyukuri. Tanpa kesehatan yang prima, seluruh aktivitas pasti terganggu. Bekerja untuk keluarga dan masyarakat bisa terbengkalai. Begitu juga tugas mengabdi pada Allah menjadi tidak maksimal. Dengan kata lain, kesehatan sangat menentukan dalam upaya mencapai kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Secara umum, ada dua jenis kesehatan yang mesti dipelihara, yaitu kesehatan jasmani dan rohani. Dari kedua jenis kesehatan ini, kesehatan jasmani lebih mudah dipelihara. Hampir semua penyakit jasmani dapat dikenali melalui berbagai observasi medis. Melalui observasi yang tepat, treatment terhadap penyakit tersebut dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan standar pengobatan yang diberikan oleh dokter.

Tidak demikian dengan penyakit rohani (penyakit hati). Selain sulit untuk dikenali dan dideteksi, obat untuk penyakit jenis ini pun sulit ditemukan. Padahal bila direnungkan secara mendalam, penyakit hati ini bisa lebih berbahaya dari penyakit jasmani. Efek penyakit jasmani hanya dirasakan secara individual. Sementara, penyakit hati membawa efek negatif bagi kehidupan individual dan juga kehidupan sosial.

Ada banyak penyakit hati yang perlu dihindarkan. Penyakit-penyakit itu antara lain adalah marah, dendam, iri, dan dengki. Bila penyakit-penyakit ini dibiarkan, stabilitas psikologis akan terganggu. Pikiran menjadi tidak sehat. Perhatian terhadap diri dan keluarga terabaikan. Yang selalu dipikirkan hanyalah keadaan orang lain. Akibatnya, benih-benih kebencian akan tumbuh dan berkembang.

Orang yang memiliki penyakit hati adalah orang yang tidak mau berkompetisi secara sehat. Kerja keras orang lain dalam meraih sukses dipandang secara negatif. Apa pun yang dikerjakan orang lain yang tidak menguntungkan dirinya dinilai salah. Lebih ironis lagi, dia hanya akan merasa puas jika orang lain jatuh dan menderita.

Penyakit ini akan lebih berbahaya karena biasanya orang yang mengidapnya tidak mengetahui kalau dia sedang sakit. Karena itu, tidak ada sedikitpun usaha yang dilakukan untuk mengobati dan menyembuhkannya. Sama dengan penyakit fisik, semakin lama dibiarkan maka semakin sulit pula untuk disembuhkan.

Mewaspadai dan menghindari penyakit hati adalah bagian dari ajaran agama. Dalam konteks itu, Rasulullah SAW pernah bersabda yang berbunyi, "Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati" (HR. Bukhari Muslim).

Salah satu cara efektif untuk mendeteksi penyakit ini adalah melalui refleksi diri (muhasabah). Refleksi diri haruslah dilakukan secara jujur. Bisikan-bisikan yang ada di dalam hati didengar secara cermat. Bila ada bisikan yang tidak benar, tandanya hati sedang dirasuki penyakit. Obatnya adalah bertaubat dan memohon ampun pada Allah SWT.

Puasa Ramadan adalah saat yang tepat untuk melakukan refleksi. Di tengah kesibukan menjalankan puasa dan sejumlah amalan lainnya, kita perlu menundukkan kepala dan bertafakkur untuk membersihkan hati. Hanya dengan hati yang bersih, cahaya dan petunjuk ilahi dapat menerangi jalan hidup kita. Dan hanya dengan petunjuk ilahi, hidup kita akan memiliki makna. Wallahua'lam. [***]

Penulis adalah Menko Perekonomian RI

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA