GEDUNG BARU KPK

Sindir DPR, Masyarakat Indonesia di Australia Sisihkan 1 Persen dari Bantuan untuk DPR

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Senin, 16 Juli 2012, 08:14 WIB
Sindir DPR, Masyarakat Indonesia di Australia Sisihkan 1 Persen dari Bantuan untuk DPR
ilustrasi
rmol news logo Gerakan koalisi masyarakat sipil yang menggalang dana untuk pendirian gedung KPK melalui aksi “Saweran KPK” terus meluas hingga ke luar negeri. Mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Queensland, Australia melalui “Posko Koin untuk KPK di Queensland” mengumpulkan dana sebesar AUD 1,103.16 atau setara dengan Rp 10.452.500 setelah seminggu dibuka.

Uniknya, dana yang terhimpun tidak hanya ditujukan untuk pendirian gedung KPK, tetapi juga untuk pembangunan gedung DPR. Bedanya, sebagian besar para penyumbang itu hanya mengalokasikan tidak lebih dari 1 persen dana sumbangannya untuk pembangunan gedung DPR sebagai bentuk sindiran agar para anggota dewan membuka mata dan telinga terhadap aspirasi rakyat.

"Jadi kalau ada yang nyumbang 100 dollar, mereka menambahkan 1 dollar untuk DPR. Jadi konsepnya 100 persen plus 1 persen," jelas Raja Juli Antoni mahasiswa di Queensland, Australia, dalam keterangan persnya.

Arseto Yekti Bagastyo, salah seorang penyumbang koin, menegaskan dia ikut saweran sebagai ekspresi kerinduan akan Indonesia yang bebas korupsi. 

"Saya berharap KPK dapat segera kembali meningkatkan kinerjanya tanpa adanya hambatan atau pengalihan perhatian, misalnya seperti masalah (pembangunan) gedung. Saya percaya rakyat akan terus mendukung KPK untuk menciptakan negara Indonesia yang bebas korupsi," ujar kandidat doktor di the University of Queensland ini.

Hendry  Baiquni, salah seorang penggagas Posko KuK Queensland, juga berharap DPR segera mencabut “tanda bintang” pada anggaran pembangunan gedung baru KPK.

"Kami menghormati setiap lembaga negara yang ada di Indonesia. Tetapi kami menilai, di tengah-tengah kondisi mengguritanya korupsi di tanah air, pembangunan gedung KPK memiliki urgensi yang jauh lebih penting dibandingkan dengan pembangunan gedung lembaga negara lain, misalnya gedung DPR," ungkap Hendry yang juga  Ketua Perhimpunan Indonesia Queensland (PIQ).

Sementara itu, Pan Mohamad Faiz, Presiden PPI University of Queensland (UQISA), menyampaikan bahwa semangat dan dukungan dari para mahasiswa Indonesia di University of Queensland dan beberapa universitas lainnya dalam hal gerakan moral pemberantasan korupsi sangatlah besar. Setidaknya hal tersebut dapat terlihat dari partisipasi aktif dalam gerakan moral “Koin untuk KPK”.

"Betapa malunya kami, ketika di ruang kelas dan forum-forum internasional, Indonesia seringkali dijadikan contoh sebagai negara yang dikenal dengan sistem yang korup. Sehingga, tindakan rekan-rekan mahasiswa Indonesia di luar negeri yang aktif dalam Posko Koin untuk KPK ini, setidaknya sebagai salah satu bentuk tanggung jawab moral dan wujud investasi bersama terhadap penguatan tekad dan semangat pemberantasan korupsi," ujarnya.

Sementara itu, Illian Deta Arta Sari, Koordiantor Saweran KPK, mengucapkan terima kasih atas dukungan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Queensland. Menurutnya, gerakan moral posko KuK Queensland mengkonfirmasi kegelisahan publik terhadap pelemahan KPK oleh DPR.

"Saya sangat mengapresiasi upaya teman-teman mahasiswa dan warga Indonesia di luar negeri, terutama  Queensland, yang peduli dan turut melakukan saweran untuk KPK. Gerakan ini bukan dihitung dari nominalnya, tapi symbol dukungan terhadap upaya pemberantasan korupsi dan melawan semua pelemahannya," pungkas perempuan berjilbab yang juga aktivis ICW ini. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA