Semula negara sudah setuju kembali menggerojok uang Rp 200 miliar ke Leces. Tapi ketika saya diangkat jadi Menteri BUMN rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin lihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu, agar negara
tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar.
Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan untuk mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi dari pengalaman saya belum tentu akar masalahnya di modal. Sering kali pokok persoalannya di manajemen itu sendiri.
Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar tidak segera ditangkap?
Tentu saya tidak akan tergoÂyahÂkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan deÂngan pencairan dana tersebut LeÂces pasti hidup, saya pun akan langÂsung setuju. MasalahÂnya jaÂmiÂnan pasti hidup itu yang tidak ada.
Terbukti gerojokan uang ratuÂsan miliar di tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil mengÂhiÂdupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenÂdeÂrungannya akan minta lagi dan minta lagi.
Untuk Leces saya melihat perÂsoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya berÂmalam di komplek pabrik kertas Leces di malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru deÂngan bahan bakar batuÂbara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut deÂngan pemikiran dan langkah itu.
Tapi untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya deÂngan satu langkah. Dia memÂbutuhkan puÂluhan, bahkan ratuÂsan teroboÂsan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.
Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi untuk ‘dijerumuskan’ ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke peruÂsahaan yang besar dan bagus.
Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijeblosÂkan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engeneering) memudahkannya menganalisis kondisi Leces. OrangÂnya juga tidak egois.
KeÂtika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.
Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-leÂdak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. KecintaanÂnya pada peÂkerjaan membuat motto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja!
Antusiasme itu yang juga terÂlihat menular ke seluruh tim LeÂces sekarang ini. Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara.
Kni Leces hidup lagi tanpa menÂdapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyaÂwanÂnya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! KarÂyaÂwan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!
Tentu, karena sudah terlanjur disetujui, Budi tetap berharap dana Rp 200 miliar itu bisa cair. BuÂkan lagi untuk modal, tapi unÂtuk membayar utang lama. Di masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. MaÂnaÂjemen Leces berhasil meÂlakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.
Utang yang sudah berumur lebih 10 tahun itu harus dibayar. KaÂlau tidak, utang itu akan meÂmusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju. Budi juga berencana mengÂÂgunakan dana sisanya unÂtuk membangun huÂtan tanaman industri. Untuk mencukupi baÂhan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju deÂngan dua rencana itu: bayar utang dan huÂtan tanaman industri. PerÂsoalannya, belum tentu angÂgaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk bayar utang.
Di sinilah BUMN akan selÂalu kaÂlah lincah dengan swasta. Apa pun kasus menghidupkan kemÂbali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya peÂrusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati, bisa hidup kembali deÂngan cara yang sama. Demikian juga pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.
Kelak, kalau Leces sudah seÂhat, haÂrus segera di-go public-kan. InÂdustri kertas tidak lagi meÂnempati posisi strategis bagi neÂgara. Tidak selayaknya lagi neÂgaÂra terus menggerojokkan dana unÂtuk inÂdustri seperti LeÂces. SeÂmakin banyak modal puÂbÂlik maÂsuk ke dalamnya akan seÂmakin baik. Leces memang beÂlum teruji akan menjadi peruÂsaÂhaan yang pasti akan hidup seÂhat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat!
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: