MANUFACTURING HOPE 32

Inisiatif Sendiri untuk Mencari Solusi

OLEH DAHLAN ISKAN, Menteri BUMN

Senin, 25 Juni 2012, 08:40 WIB
Inisiatif Sendiri untuk Mencari Solusi
DAHLAN ISKAN

RMOL.Tanpa diminta oleh Kementerian BUMN, para pimpinan tiga perusahaan ini berkumpul: Garuda Indonesia, Angkara Pura I, dan Angkasa Pura II. Mereka saling curhat, kemudian mencari jalan keluar. Tiga perusahaan BUMN tersebut memang saling terkait. Yang satu bisa menghambat kemajuan yang lain. Atau sebaliknya.

Garuda memang tidak mau berhenti berprestasi. Setelah April lalu mengalahkan Malaysian Airlines dan sebulan kemudian mengalahkan Thai Airways, kini Garuda juga sudah diklasifikasikan sebagai penerbangan bintang empat. Tentu Garuda ingin naik kelas ke bintang lima. Di Asia, baru lima penerbangan yang tergolong bintang lima: Singapore Airlines, Qatar Airways, Cathay Pacific Hongkong, Asiana Korea Selatan, dan jangan kaget: Hainan Airlines, sebuah penerbangan Hainan, pulau yang akan dijagokan menjadi ‘Balinya’ Tiongkok.

Sebagai penerbangan bintang empat, Garuda kini sudah sejajar de­ngan 32 perusahaan pener­ba­ngan dunia seperti Air France Pran­cis, JAL Jepang, Dragonair Hongkong, Qantas Australia, Ko­rean Air Korea dan lainnya. Ga­ruda sudah keluar dari jajaran bin­tang tiga seperti Canadian Air Kanada, Royal Brunei, Saudian Airlines Arab Saudi, dan 116 pe­ru­sahaan penerbangan lainnya.

Dalam pertemuan tersebut di mana saya hadir hanya sebagai pen­dengar dan saksi, disepakati ba­nyak hal. Ada 32 masalah yang akan dipecahkan bersama secara bertahap. Sebagian bisa langsung dikerjakan, sebagian lagi harus berkoordinasi dengan instansi lain. Soal pelayanan imigrasi, visa on arrival, karantina, dan kli­nik kesehatan, misalnya, sama se­kali di luar sistem komando ke­pa­la bandara. Masing-masing punya atasan sendiri.

Yang bisa diatasi sendiri mi­sal­nya soal troli, kebersihan, ke­in­da­han, ketertiban parkir, dan se­­bagainya. Mulai awal Juli nan­ti, misalnya, interior Terminal 2 Ban­dara Soekarno Hatta akan di­perbaharui, menjadi setingkat in­terior hotel bintang lima. Mung­kin penumpang agak terganggu oleh renovasi itu, namun demi ke­ja­yaan bersama harus kita lakukan.

Disadari sepenuhnya bahwa semua perusahaan penerbangan yang berbintang lima selalu didukung oleh bandara yang juga berbintang lima. Singapore Air­lines dapat dukungan Bandara Cha­ngi yang begitu bagus. Cat­hay Pacific dapat dukungan ban­dara bintang lima Chep Lap Kok. Asiana dapat dukungan bandara yang sangat hebat seperti Incheon.

Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S Sunoko, yang antara lain mem­bawahkan Bandara Soekar­no Hatta, juga bertekad meng­ak­hi­ri sistem yang primitif dalam pe­mungutan uang servis bandara. Akhir tahun ini pungutan itu akan langsung masuk ke harga tiket pesawat. Tahap pertama untuk Garuda dulu yang sistemnya siap dipadukan dengan sistem milik bandara. Dengan demikian pe­numpang ti­dak perlu lagi mem­bayar di lo­ket khusus dan di­pe­rik­sa lagi saat boarding.

Yang saya juga gembira adalah ke­tika mendengar tekad para di­reksi Angkasa Pura I dan II untuk berkaca ke tingkat internasional. Selama ini tidak ada keberanian untuk memasukkan bandara kita ke dalam sistem ranking intern­a­sio­nal. Dengan demikian kita ti­dak tahu bandara kita itu ter­masuk bintang lima, empat, tiga, dua, satu, atau tidak berbintang sama sekali.

Dalam pertemuan tersebut di­se­pakati bandara Soekarno Hatta Jakarta, Juanda Surabaya, Ngu­rah Rai Bali, Hasanuddin Ma­kas­sar, dan Kuala Namu Medan di­daftarkan untuk diranking di ting­kat internasional. Apa pun hasil­nya akan diterima secara terbuka. Toh ada kesempatan untuk me­la­ku­kan perbaikan, lalu dinilai lagi tahun berikutnya. Kalau ketaku­tan itu terus dipelihara, tidak akan ada dorongan yang kuat untuk berbenah.

Bagaiamana dengan pelayanan yang di luar wewenang kepala bandara? Sambil mencari sistem yang terbaik, pihak bandara akan melakukan lomba berhadiah uang yang cukup besar. Penumpang akan dilibatkan menilai pelaya­nan yang diberikan instansi-instansi tersebut.

Instansi yang mencapai standar yang telah ditetapkan akan men­dapat hadiah uang cukup besar, yang dimaksudkan untuk m­e­ning­katkan kesejahteraan mereka.

Saya melihat keseriusan pimpi­nan tiga perusahaan ini. Pe­le­ba­ran jalan-jalan di sekitar bandara Cengkareng sudah mulai ber­fungsi dan memang terasa lebih lapang. Penataan parkir akan se­gera menyusul.

Usaha mengatasi masalah sen­diri seperti itu juga dilakukan oleh teman-teman di menara kon­trol bandara Soekarno Hatta. Se­telah empat kali berkunjung se­cara mendadak ke tower itu, saya mendapat giliran diundang oleh mereka. Saya pikir saya akan di­demo atau setidaknya dike­royok. Ketika masuk ke ruang perte­mu­an yang terletak di bagian bawah tower, pertemuan sedang ber­langsung. Sekitar 50 orang me­me­nuhi ruangan itu.

Yang membuat saya kaget, tidak hanya teman-teman yang ber­profesi petugas ATC yang ha­dir di situ. Terlihat juga para pilot dan manajer perusahaan pener­ba­ngan. Mereka sedang saling cur­hat: para pilot curhat mengenai pengalaman mereka mendarat atau take off di Soekarno Hatta, dan awak ATC curhat mengenai kesulitan mereka sendiri.

Sayangnya banyak pem­bi­ca­raan itu yang kurang saya me­ngerti. Maklum mereka banyak meng­gu­­nakan bahasa langit. Tapi ku­rang lebih saya bisa menang­kap maksudnya. Para pilot, ma­najer perusahaan penerbangan, dan crew ATC menyepakati ba­nyak hal. Berbagai perubahan akan dilakukan.

Termasuk sepakat agar pembi­ca­raan antara menara kontrol dan pilot tidak perlu meng­gu­na­kan ka­limat basa-basi atau sopan santun. Langsung saja pakai ba­ha­sa formal, singkat, tegas, agar lalu-lintas pembicaraan bisa lebih padat.

Disepakati juga, dalam hal Ban­dara Soekarno Hatta benar-benar sangat padat, menara kon­trol Jakarta akan menghubungi bandara di luar Jakarta, tempat pesawat tersebut akan berangkat menuju Jakarta. Lebih baik ke­berangkatan pesawat ditunda be­berapa menit, daripada tetap be­rangkat tapi sampai di Jakarta tidak bisa segera mendarat: ber­putar-putar dulu di langit Jakarta.

Ini menjadi keluhan yang berat karena membuat perusahaan pe­nerbangan rugi besar. Peng­gu­na­an bahan bakar pesawat itu luar biasa boros dan mahal. Untuk jenis 737, setiap jam meng­ha­bis­kan 3.500 liter BBM. Berarti sekitar Rp 33 juta per jam.

Tim ATC Jakarta juga sedang memikirkan bagaimana dua lan­dasan yang ada bisa ditingkatkan kemampuannya. Sekarang ini, dua landasan tersebut hanya bisa melayani pendaratan/tinggal landas pesawat 52 kali setiap satu jam. Jumlah itu sebenarnya masih bisa ditingkatkan, sebagaimana yang terjadi di bandara-bandara modern. Bahkan masih bisa di­tingkatkan menjadi 72 kali.

Kalau peningkatan ini bisa dilakukan tentu antrean men­darat dan tinggal landas tidak ter­lalu berat lagi. Salah satu pili­han yang sedang disimulasi se­karang ada­lah mengubah sistem: salah satu landasan hanya khu­sus untuk take off, dan satunya lagi khusus untuk landing. Ma­sih disimu­lasikan apa­kah pilihan ini akan lebih baik.

Kalau saja Bandara Kuala Namu Medan selesai akhir tahun ini dan bandara baru Ngurah Rai Bali selesai pertengahan tahun depan, setidaknya wajah bandara kita akan berubah banyak.

Begitu banyaknya pekerjaan yang harus kita lakukan. Begitu ru­mitnya persoalan. Tapi de­ngan kemauan yang keras kita akan bisa melakukannya. Untuk bisa naik kelas, memang tidak cukup dengan hanya bicara dan bicara. Perlu bekerja, bekerja, dan bekerja!

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA