Memang tidak ada alasan bagi Indonesia untuk serba kalah dari sesama negara ASEAN. Di antara 10 negara Asia Tenggara kekuatan ekonomi Indonesia sudah mencapai 51 persen sendiri. Baru yang 49 persen dibagi 9 negara lainnya. Di bawah direksi Garuda yang sekarang dengan Dirut Emirsyah Satar.
Prestasi itu akan terus bisa diÂpacu. Inilah direksi yang dari segi umur relatif masih muda-muda. Inilah direksi yang berada di punÂcak antusias dan gairahÂnya. Iklim seperti itu secara otoÂmatis akan menjalar dan meÂwaÂbah ke jajaran di bawah dan di bawahnya lagi.
Ekonomi Indonesia yang terus membaik memang bisa menjadi ladang yang subur bagi Garuda. Penambahan pesawat yang terus dilakukan, termasuk yang kelas 100 tempat duduk, akan membuat Garuda terbang kian tinggi.
Langkah terbarunya untuk bisa dipercaya Kanada sebagai pusat perawatan pesawat Bombardier se Asia Pasifik, memberikan hope yang lebih besar lagi. Dengan deÂmikian GMF AeroAsia, salah satu anak perusahaan Garuda, akan menjadi perusahaan kelas dunia juga. Ini karena pembuat mesin pesawat terkemuka di dunia lainnya, GE dari USA juga sudah mempercayakan peraÂwaÂtan mesin GE ke GMF AeroAsia.
Seperti tidak kalah dengan presÂtasi Garuda dan enam BUMN kelas dunia lainnya (BRI, Bank Mandiri, Telkom, BNI, PGN, dan Semen Gresik) kini muncul si cabe rawit: PT Batan Teknologi.
Tahun ini di bawah Dirut baru Dr Ir Yudiutomo Imardjoko, BaÂtanTek tidak hanya bisa bangkit dari kuburnya bahkan begitu bangkit langsung bisa berlari dengan kencangnya. Larinya pun ke mana-mana termasuk ke puÂluhan negara Asia.
Padahal tahun 2010 lalu BatanÂTek sudah dicabut nyawanya. Ini gara-gara ada larangan interÂnaÂsioÂnal untuk melakukan pengaÂyaÂan uranium tingkat tinggi. Ini dikhawatirkan bisa disaÂlahÂguÂnaÂkan menjadi senjata nuklir.
Sejak itu PT BatanTek berhenti memproduksi radioisotop. Tim BatanTek sudah berusaha menguÂbah proses pengayaan uranium menjadi tingkat rendah, tapi tidak mampu. Bahkan BatanTek sudah mendatangkan ahli dari USA untuk menularkan pengetahuan proses uranium tingkat rendah. Tapi juga gagal.
Akibatnya rumah-rumah sakit yang selama ini menggunakan raÂdioisotop dari BatanTek memiÂlih membeli dari sumber lain. SeÂmua pelanggan marah dan meÂmuÂtusÂkan hubungan. BatanÂTek praktis mati.
Untunglah Dr Yudiutomo daÂtang dan menjadi dirut baru. Anak MaosÂpati, Magetan, luluÂsan FaÂkultas Teknik Nuklir UGM ini memang buÂkan sembarang orang. Dia meÂraih gelar doktor di bidang nuklir di Iowa State University USA.
Dr Yudiutomo mengajak ahli nuklir sealmamater di UGM, Dr Ing Kusnanto untuk menjadi direktur produksi. Dr Kusnanto meraih gelar doktor nuklir dari Aachen, Jerman.
Karena PT BatanTek masih dalam keadaan sulit, sejak awal dua ahli nuklir ini memilih mengÂhemat: menyewa satu rumah unÂtuk dihuni berdua. Keluarga diÂtinggal di Yogya. Dua orang iniÂlah yang tidak henti-hentinya berÂpikir bagaimana agar BatanTek bisa melakukan pengayaan uraÂnium tingkat rendah. Siang maÂlam dua ahli ini terus berdiskusi. Keputusan untuk tinggal satu rumah membuat diskusi mereka berlanjut setelah jam kantor seÂkalipun. Di rumah kontrakan ituÂlah mereka bisa berdiskusi samÂpai jam 2 dini hari.
Hasilnya luar biasa: mereka meÂnemukan cara baru mengaÂyaÂkan uranium tingkat rendah. BuÂkan cara yang sudah dikenal di dunia sekarang ini, tapi cara baru yang untuk mudahnya saya beri saja nama “Formula YK†(YuÂdiÂutomo Kusnanto).
Formula YK ini menggunakan prinsip electro plating. MengÂganÂtikan cara lama sistem foil target. Prinsipnya, sebelum dimasukkan reaktor nuklir uranium itu di-plaÂting dengan rumus tertenu. Cara ini meski kelak diketahui oleh ahli lain pun akan sulit ditiru. RuÂmus angka-angkanya tidak akan diungkap.
Masalahnya: dari mana peruÂsaÂhaan dapat tambahan modal? Reaktor nuklirnya sih bisa tetap menggunakan reaktor milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BaÂtan) yang di Serpong itu, tapi banyak peralatan PT BatanTek yang harus diperbaharui atau diperbaiki.
“Perlu berapa?†tanya saya saat rapat dengan dua ahli nuklir itu di Serpong.
“Cukup besar pak, Rp 85 miliar,†jawab Dr Yudiutomo.
“Saya carikan!â€
Saya pun menghubungi Bank Rakyat Indonesia. Saya memang sangat kagum dan terharu melihat kejeniusan dua ahli ini. Saya bisa merasakan getaran semangatnya yang meluap. Dan saya juga meÂlihat kilatan matanya yang meÂnyiratkan keinginan untuk maju. Inilah ilmuwan yang memiliki kemampuan manajerial yang handal. Intelektual sekaligus entrepreneur!
Dengan penemuan baru ForÂmula YK ini Indonesia berhasil menjadi satu-satunya negara di Asia yang mampu memproduksi radioisotop. Kini seluruh negara Asia datang ke BatanTek untuk membeli radioisotop!
Radioisotop adalah bahan yang sangat penting untuk pemÂeÂrikÂsaan kesehatan di rumah sakit. Radioisotop adalah bahan yang tidak bisa dipisahkan dengan keÂdokteran nuklir. Dengan radioiÂsoÂtop organ-organ di dalam baÂdan bisa dilihat secara berwarna dan tiga dimensi.
Ini sudah beda dengan radioÂlogi yang hanya bisa hitam putih dan dua dimensi. Maka pemeÂriksaan melaui MRI, CT, gamma camera, serta operasi yang mengÂgunakan pisau gamma mutlak memerlukan radioisotop. Jepang pun tidak memproduksinya seÂhingga pasar radioisotop kita amat besar. Apalagi Tiongkok.
Waktu saya mendampingi PreÂsiden SBY makan siang deÂngan Presiden Hu Jintao di Beijing yang lalu, saya pun promosi raÂdioisotopnya BatanTek. KebeÂtuÂlan saya berada di sebelah menÂteri perdagangan Tiongkok. SeÂlama makan siang itu saya terus minta agar Tiongkok membeli radioisotop kita.
Dengan kemampuan Dr YuÂdiÂutomo dan timnya menembus paÂsar Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan negara-negara Asia lainnya, maka masa depan PT Batan Teknologi amat cerah. Tahun ini omÂsetnya langsung bisa menÂcapai Rp 200 miliar. Tidak musÂtahil bakal bisa mencapai Rp 1 triliun dan kemudian Rp 3 triliun di kemudian hari.
Amerika dan Australia, meski mampu membuat radioisotop, mereka bukan pesaing kita. Umur radioisotop ini hanya 60 jam. Setelah itu daya radiasinya habis. Untuk kebutuhan Tiongkok 10 curie, misalnya, Tiongkok harus membeli 60 curie. Yang 50 curie hilang di jalan. Karena itu peÂngiÂrimannya harus dengan pesawat. Harus dihitung waktu pengiÂriÂmanÂnya sejak dari Serpong ke bandara dan seterusnya.
Saya tentu ingin dua ahli kita ini tidak berhenti di radioisotop. KeÂduanya juga optimis pengeÂtaÂhuannya akan sangat berguna unÂtuk pertanian dan pengeboran miÂnyak. Tapi biarlah BatanTek maju dulu. Jadi raja Asia dulu. Dua taÂhun lagi kita bicara nuklir untuk meÂngamankan pangan kita.
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: