Jurubicara PBNU Sultan Fatoni menegaskan, di era Gus Dur juga banyak terjadi konflik antara umat beragama. Misalnya pembakaran gereja di Tasikmalaya, Pasuruan, Situbondo. Namun, sejak awal, warga NU sudah diberi pemahaman, bahwa konflik antarumat beragama atau antarsesama umat bergama, itu pada prinsipnya adalah konflik sosial, yang tak berkaitan dengan keyakinan.
"Hanya, saat itu NU sejak awal, menunjukkan komitmennya menjaga torelansi, menjaga kebersamaan, toleransi, kerukanan. Maka, ketika kasus itu, muncul, lantas memahami bahwa itu itu adalah problem sosial, bukan problem antar umat berama. bukan problem keyakinan," jelasnya kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.
Pembakaran pesantren Syiah di Sampang Madura juga, jelasnya, itu adalah konflik sosial. Sama seperti pembakaran gereja pada masa Gus Dur. Meski tanpa mau menyebut secara rinci, dia menegaskan, konflik pembakaran pesantren Syiah dipicu oleh persoalan sosial, politik, bahkan ekonomi. Karena isu agama paling mudah untuk tunggangi.
[zul]
BERITA TERKAIT: