"Gambar itu saya buat terang-terangan. Karena itu gambarnya seperti ya sudah hampir sempurna. Itu memakai
handphone. Dua bulan kemudian, sebelum rusak, saya transfer ke CD," jelasnya di
TVOne pagi ini.
Dia mengabadikan kondisi dan suasana tersebut bermaksud ingin menunjukkan kepada publik bahwa pelayanan di Rutan sangat bobrok.
"Motif saya cuman satu. Kebobrokan yang ada di lembaga di bawah pimpinan Departemen Hukum dan HAM bertahun-tahun terjadi terus menerus sampai saat ini diketahui masyarakat. Dan Pak Menteri (Amir Syamsuddin) yang baru bisa memperbaikinya," katanya.
Salah satu yang diabadikan pengusaha, yang mendekam di Rutan Salemba pada 2008 selama 4 bulan karena terkait kasus pemalsuan dokumen visa Amerika Serikat itu, adalah soal terjadinya diskrimanasi antara orang kaya dan miskin dalam memperoleh makanan. Juga soal adanya praktik prostitusi.
"Prostitusi ada. Kan ada yang main di WC. Di WC itu untuk kalangan menengah ke bawah, (dengan tarif) Rp 50 ribu 20 menit dengan beralaskan bangku, koran. Untuk
high class di ruangan-ruangan Kasubdit-Kasubdit yang disewakan untuk hubungan suami istri. Itu per 30 menit Rp 500 ribu. Satu hari satu malam 2,5 juta," terangnya.
Dan dia yakin praktik seperti itu masih terjadi hingga saat ini. Karena tiga bulan yang lalu, pengacaranya ke Rutan Salemba masih menemukan adanya praktik tersebut.
[zul]
BERITA TERKAIT: