Untuk menentukan siapa yang akan diusung, fungsionaris DPP Partai Golkar Indra J. Pilliang, menyebut hal itu tergantung dari apa keinginan partai.
"Nah, perdebatannya nanti apakah Golkar maju untuk posisi gubernur tapi dengan syarat mencari kursi tambahan sebesar 8 kursi lagi. Ataukah cukup sebagai calon wakil gubernur dengan posisi Golkar itu pihak yang diajak partai lain. Jadi bukan pihak yang aktif mengajak partai lain," ungkapnya kepada
Rakyat Merdeka Online (Jumat, 11/11).
Sejauh ini, dalam pengamatan mantan peneliti CSIS itu, Tantowi Yahya tidak mungkin maju sebagai wakil gubernur, artinya hanya akan maju sebagai orang nomor satu. Sementara Prya, besan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie itu ada kemungkinan, kalaupun maju, hanya menjadi wakil gubernur.
"Jadi ini saja. Kalau Golkarnya pasif, kemungkinan hanya mengajukan posisi wakil gubernur. Dan disini peluang Pak Prya besar. Tapi kalau Golkar aktif dan didukung penuh oleh DPP untuk posisi gubernur itu peluang Tantowi Yahya jadi kuat," jelasnya.
Kalau dari Golkar, ingin posisi nomor satu atau dua?
"Secara internal tentu ingin posisi gubernur ya," jelasnya memastikan.
Bila memang ingin mengajukan calon gubernur, seperti dia sebutkan di atas, DPP Partai Golkar diberi tanggung jawab untuk melakukan lobi-lobi dan menggandeng partai lain agar terpenuhi syarat, yaitu mengantongi 15 kursi di DPRD. Saat ini, Golkar hanya mengantongi 7 kursi.
"Hampir semua partai bisa diajak," katanya saat ditanya partai apa yang berpeluang untuk didekati.
Bahkan, sambung Indra, partai besar seperti PKS dan Demokrat, juga bisa diajak bergabung. Bila calon dari Golkar memiliki elektabilitas lebih tinggi dibanding calon dari dua partai tersebut.
[zul]
BERITA TERKAIT: