Peringatan itu disampaikan Hegseth saat berbicara di hadapan para kadet Korps Pelatihan Perwira Cadangan (ROTC) dan calon personel militer di Universitas Tennessee, pada Sabtu waktu setempat, 17 Oktober 2026.
Dia menegaskan Iran tidak memiliki banyak waktu untuk menentukan pilihan antara berunding atau menghadapi konsekuensi militer dari AS.
“Iran akan segera dihadapkan pada pilihan apakah mereka akan menyerahkan hal-hal tersebut di meja perundingan atau menghadapi kehancuran yang dapat dan akan ditimbulkan Amerika dengan cepat jika perlu,” tegasnya.
Hegseth menuduh Teheran membangun persenjataan rudal konvensional dalam jumlah besar untuk menangkal kemungkinan serangan militer, sembari terus mengejar ambisi nuklirnya.
Menurutnya, kekuatan militer AS menjadi instrumen penting untuk menekan negara-negara yang dianggap sebagai ancaman agar bersedia berunding.
Dia juga menuding Iran mendanai kelompok-kelompok yang disebut Washington sebagai proksi, termasuk Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
“Iran mendanai kelompok proksi di Hizbullah, mendanai kelompok proksi di Houthi di Yaman,” kata Hegseth.
Menteri Pertahanan AS itu menambahkan, pihaknya berupaya mencegah serangan terhadap pasukannya dan kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis.
BERITA TERKAIT: