RMOL. Masalah kebutuhan pangan yang menjadi ancaman nyata warga dunia pada masa mendatang karena jumlah penduduk dunia yang semakin bertambah, mestinya dimanfaatkan Indonesia untuk menjadi negara supplier pangan. Tapi, sayang, yang terjadi malah sebaliknya. Impor komoditi pangan Indonesia justru tinggi.
"Semuanya ini akibat kepemimpinan ekonomi kita yang
myiopic (rabun jauh), yakni kepemimpinan yang sibuk dengan kepentingan jangka pendek dan abai dengan kepentingan serta pembangunan jangka panjang," ungkap ekonom Dahnil Anzar Simanjuntak kepada
Rakyat Merdeka Online (Senin, 7/11).
Tak hanya itu, hal lain yang membuat Indonesia tetap impor, bukannya mengekspor komoditi pangan, pemerintah sibuk dengan industrialisasi yang justru banyak dikuasai asing dan pada saat yang sama abai dengan pengembangan pertanian yang sejatinya potensi besar negeri ini.
"Padahal ketika kita mampu mengembangkan industri pertanian kita, bukan tidak mungkin kita akan menjadi negara
supplier pangan terbesar dunia. Dan banyak negara yang tergantung dengan komoditi pangan. Ketika ketergantungan itu terjadi maka Indonesia mampu menjadi kekuatan ekonomi besar dunia," ucap dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tirtayasa Serang, Banten ini.
[zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: