Gita Wirjawan Diragukan Lebih Peduli Produk Dalam Negeri Dibanding Mari E. Pangestu

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Kamis, 20 Oktober 2011, 15:30 WIB
Gita Wirjawan Diragukan Lebih Peduli Produk Dalam Negeri Dibanding Mari E. Pangestu
Perdana Wahyu Santosa/ist
RMOL. Keputusan Presiden SBY mencopot Marie Elka Pangestu (MEP) dari kursi menteri perdagangan yang telah didudukinya sejak Kabinet Indonesia Bersatu I dinilai tidak lepas dari kebijakannya selama ini yang mengundang kemarahan publik. Banyak kebijakan mantan peneliti CSIS itu lebih pro asing dan membuat daya saing ekonomi UKM dan industri tidak meningkat secara signifikan.

"Maka tidak mengherankan jika SBY memberikan mandat kepada GW (Gita Wirjawan) untuk mengendalikan kebijakan perdagangan ekspor-impor yang lebih berpihak kepada perekonomian nasional, khususnya UKM dan petani dan nelayan," kata Direktur Riset dan Keuangan Sabang Merauke-Circle, Perdana Wahyu Santosa, saat menyampaikan keterangan pers, di Warung Daun, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, (Kamis, 20/10).

Makanya, Gita yang juga mantan investment banker Goldman Sach dan JP Morgan itu diharapkan cepat menyesuaikan diri dengan berbagai persiapan pasar bebas Asean Economic Community (AEC), AFTA dan lain-lain. Kontrak-kontrak perdagangan yang kurang memihak pada industri nasional harus ditinjau ulang.
 
Namun, minimnya pengalaman dan latar belakang pendidikan pengendali kelompok bisnis Ancora itu dalam seluk beluk perdagangan global tampaknya tidak dipertimbangkan dengan cermat oleh SBY. Sehingga kapabilitasnya sebagai Menteri Perdagangan, apalagi di tengah krisis keuangan global diragukan banyak pihak. Apalagi Gita tidak pernah bekerja di perusahaan nasional sama sekali. Begitu juga Wamennya, Bayu Krisnamurthi (BK) belum mempunyai kompetensi dan track record yang memadai dalam perdagangan internasional.

"SMC menilai pergantian MEP oleh GW tidak memberikan dampak signifikan. Karena GW dan BK belum berpengalaman dan miskin jejaring dalam bidang perdagangan internasional dan WTO. Hal lain yang dianggap handicap' GW adalah rasa nasionalismenya diragukan karena dianggap publik sebagai antek global investor dan neoliberal," tandasnya.

Tapi, Gita tambahnya, bisa mendapat apresiasi masyarakat, terutama pelaku UKM apabila dapat mengendalikan ekspor-impor yang lebih berimbang dengan China. Selain itu Gita juga mempunyai kesempatan untuk mengembangkan futures & derivatives exchange yang ada seperti PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) yang selama ini 'mati suri'. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA