Hal itu diungkapkan pengamat politik dari The Indonesia Institute Abdurrahim Ghazali kepada
Rakyat Merdeka Online siang ini.
"Sekarang ini dari survei-survei, betapa pun survei itu masih kontroversi, tapi pada umumnya kepuasan publik pada pemerintah SBY ini kan sudah turun drastis. Artinya partai apa pun yang melakukan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah, kemungkinan besar akan mendapatkan simpati. Apalagi kalau PKS dikeluarkan karena tidak sejalan dengan SBY. Itu akan menjadi kentungan politik bagi mereka," ungkapnya.
Meski begitu, Rohim memaklumi kenapa PKS tidak keluar, meski menurutnya, partai dakwah itu akan untung kalau berada di luar pemerintahan. PKS memiliki komitmen dengan SBY untuk mengawal pemerintahan ini sampai 2014.
"Jadi mereka menunggu dikeluarkan, bukan keluar sendiri. Kalau keluar sendiri beda nilainya. Kalau mereka kampanye misalnya, mengkritik pemerintah karena dikeluarkan,
message-nya lebih kuat," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: