Penyakit AMS dapat menimbulkan kematian apabila seorang pendaki tidak memahami tanda-tanda yang diberikan tubuh ketika mencapai suatu ketinggian tertentu, misalnya kepala pusing, susah bernafas, hingga keluar cairan dari hidung.
Untuk terhindar dari penyakit AMS, maka seorang pendaki wajib melakukan upaya penyesuaian diri dengan melakukan pendakian ke ketinggian tertentu secara bertahap dan turun lagi di ketinggian tertentu, sehingga tidak memaksakan diri langsung menuju puncak. Hal ini mengingat kemampuan kerja paru-paru dan jantung yang terbatas dalam menyerap kadar oksigen yang rendah.
Seperti yang dilakukan Sabar, pendaki tunadaksa dari Tim Ekspedisi Merdeka - RMOL yang harus melakukan pola pendakian secara bertahap, dari ketinggian 2.580 mdpl menuju ketinggian 3.800 dan kembali lagi ke 2.580 mdpl.
Keesokan harinya setelah bermalam di ketinggian 3.800 mdpl menuju ketinggian 4.600 mdpl dan kembali lagi ke 3.800 mdpl.
Selanjutnya dari ketinggian 3.800 mdpl naik ke ketinggian 4.600 mdpl untuk bermalam lagi sebelum keesokan paginya melakukan
summit attack ke puncak Elbrus di ketinggian 5.642 mdpl.
Begitu pola yang harus di jalankan Sabar atau pendaki lain, agar terhindar dari penyakit AMS atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit gunung.
[ysa]
BERITA TERKAIT: