"Kalau saya melihatnya bahwa ketua umum itu harus memikul tanggung jawab lebih besar terhadap masalah yang menimpa partai sekarang ini," kata pengamat politik Andrinof Chaniago kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 14/7).
Andrinof tidak melihat konferensi pers yang digelar Presiden SBY itu sebagai bentuk teguran kepada Anas karena tidak pernah tampil ke publik untuk memberikan klarifikasi setelah mendapat serangan dari mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat M. Nazaruddin.
"Kalau itu kan kita sudah tahu, pastilah Anas itu tidak mau membuat pernyataan berulang-ulang. Karena dia bukan pihak yang lepas dari masalah itu. Namanya kan disebut-sebut terus di dalam SMS yang tidak jelas itu," kata pengajar Universitas Indonesia ini.
Kalau memang nama dia disebut-sebut terlibat, apakah Anas layak untuk mengatasi kemelut di partainya?
"Ya memang seharusnya begitu. Anas kan sebagai ketua umum. Itu artinya Anas sebagai ketua umum diminta untuk menyelesaikan masalah partai dan yang terkait dengan dirinya," jawabnya.
Bagaimana dia bisa menangani kasus yang terkait dengan dirinya?"Itu tanya ke Anas dong. Bagaimana caranya, Anda (Anas) kan disebut-sebut. Nah, bagaimana caranya tanya ke Anas. Jangan tanya ke saya," tandasnya.
[zul[
BERITA TERKAIT: